
Genres: Drama
Starring: Brad Pitt, Cate Blanchett, Gael Garcia Bernal, Elle Fanning, Koji Yakusho, Rinko Kikuchi
Directed by: Alejandro Gonzalez Iñárritu
Film “Babel” terbentuk dari rangkaian beberapa kisah yang terjadi secara terpisah, namun terjalin dalam satu mata rantai yang rapi dan apik. Ada empat alur yang memiliki setting yang berbeda-beda, dan jangkauannya nggak tanggung-tanggung. Semuanya terjadi di Maroko, Amerika, Meksiko, dan Jepang.
Konflik paralel dari film ini berawal dari kecerobohan dua anak penggembala kambing di Maroko, yaitu Ahmad dan Yusuf, yang menembak bis turis dengan senapan berburu milik ayahnya. Awalnya mereka menembak karena iseng, namun ternyata peluru itu mengenai seorang wanita Amerika bernama Susan Jones (Cate Blanchett) yang sedang berlibur (?) bersama Richard Jones (Brad Pitt) dalam satu rombongan pariwisata.
Tertembaknya Susan lalu membawa kita ke Negeri Sakura, melalui sudut pandang seorang gadis Jepang yang bisu dan tuli. Usut punya usut, ternyata ayah gadis itu adalah bagian dari peristiwa penembakan Susan. Dulu ia suka berburu di Maroko dan pernah memberikan sebuah senjata sebagai kenang-kenangan pada penduduk Maroko setempat. Dan senjata itulah yang digunakan Ahmad dan Yusuf untuk menembak.
Di Jepang, penonton pun dilibatkan dalam konflik internal dari sang gadis yang bernama Chieko (Rinko Kikuchi). Chieko mengalami trauma atas kematian ibunya (bertahun-tahun yang lalu) dan sepertinya menderita depresi. Ia sering menentang ayahnya dan lebih suka bergaul dengan teman-temannya yang juga mengalami keterbatasan fisik yang sama. Ia melarikan diri dengan pergaulan bebas.
Di tempat lain, anak-anak Richard dan Susan sedang bersama pengasuhnya yang bernama Amelia (Adriana Barazza) di Meksiko. Mereka bernama Mike dan Debbie, berusia 7-9 tahun (mungkin). Amelia mengajak mereka ke Meksiko karena ia harus menghadiri pernikahan putranya.
Masalah lain terjadi pada saat mereka menyeberang batas negara. Amelia dan anak-anak menyeberang dengan mobil yang dikendarai oleh Santiago, yang sedang dalam kondisi mabuk. Mereka akhirnya dikejar oleh polisi Amerika karena dicurigai sesuatu, dan Santiago menurunkan Amelia dan anak-anak di tengah padang tandus (Baca: di antah-berantah). Maka dimulailah perjalanan mencari pertolongan yang menyesakkan hati melalui sudut pandang ini.

Adriana “Amelia” Barazza
Nah berhubung settingnya berjauhan, sedangkan cerita harus tetap berjalan, maka penonton akan dibawa dari satu tempat ke tempat lainnya secara terputus-putus. Sutradara telah berhasil menyuguhkan cerita yang masih dapat dipahami alurnya, beserta dengan plot dan sub-plot yang ada.
Bahkan di akhir cerita, kita akan menemukan satu benang merah yang menghubungkan semua kisahnya. Penutup yang indah ini terjadi pada saat Richard menelpon anaknya, Mike, yang menandai berakhirnya perjuangan panjang di Maroko, sekaligus menandai berawalnya semua kejadian di Meksiko. Ini tidak dapat diduga karena kita sudah menyaksikan kisah Amelia di Meksiko sedari tadi. Huh? Penonton kena tipu.

Brad “Richard” Pitt
“Babel” mampu membuat kita bersimpati dan merasakan emosi terhadap setiap tokoh maupun alur yang ada di dalamnya. Di Maroko kita melihat seorang wanita yang bersusah payah bertahan hidup dan penyelidikan brutal oleh polisi, Meksiko penuh dengan hingar-bingar perkawinan dan pencarian putus asa di padang pasir, sedang Jepang sarat dengan kehidupan liar anak muda dan masa depresi remaja.
Mungkin amanat yang mau disampaikan film ini terletak pada tokoh-tokohnya yang secara tidak langsung mengangkat “anak-anak” dari berbagai budaya. Misalnya Richard merasa trauma pada kematian bayinya yang bernama Sammy, dan karena itu ia menjadi jauh dengan Mike dan Debbie. Lalu Chieko masih teringat ibunya yang bunuh diri di hadapannya, yang membuat mentalnya agak sakit. Kemudian Ahmad-Yusuf bersaudara yang seolah saling bersaing karena cemburu terhadap pujian dari sang ayah. Yah, semacam itulah.

Ahmad dan Yusuf a.k.a Ahmed dan Yossef
Yang perlu diperhatikan adalah arti dari kata “Babel” itu sendiri. Babel diambil dari kisah “Menara Babel” dari Perjanjian Lama, yang mengisahkan pembangunan sebuah menara tertinggi hingga mencapai surga. Pada akhirnya, menara itu roboh sehingga manusia terpecah belah dan hidup dalam budaya dan bahasa yang berbeda. Cocok sekali dengan alur cerita yang dipaparkan oleh sutradara Alejandro González Iñárritu. Pembahasan menarik seputar “Babel” tentang bahasa dapat dilihat di blog ini.
Bagaimanapun, sang sutradara telah cukup berani untuk mengambil resiko tinggi dalam mengangkat alur yang rancu. Namun ia telah berhasil dengan amat baik. Pada akhirnya, kita tidak akan percaya bahwa kita telah menyaksikan sebuah perjalanan panjang (dan melelahkan) dari beberapa tempat sekaligus. Bahkan pada saat konflik-konflik dalam cerita berangsur-angsur surut, saya juga ikut merasa lega bersama para tokohnya. Great job buat sutradara!

Kinko “Chieko” Kikuchi


asli keren pilem iki….pernah baca juga kalo babel itu latar belakangnya cerita tentang menara babel…dmana manusia bersatu membangun menara untuk mecapai surga..kemudian tuhan murak dan menyebar manusia2 itu d seluruh penjuru dunia dan menghapus ingatan tentang menara dan bersatunya mereka dulu…tapi ternyata sejauh apapun mereka dipisahkan..dan sekuat apapun ingatannya dihilangkan tetap saja diantara mereka masi ada keterikatan dan saling berhubungan ( seperti d pilem ini)
ya, ya. dapet banget!