
Genres: Action/Adventure, Comedy, Kids/Family, Musical/Performing Arts, Science Fiction/Fantasy and Animation
Starring: Amy Adams, James Marsden, Idina Menzel, Susan Sarandon, Patrick Dempsey
Directed by: Kevin Lima
Kalau saja para sepupu saya yang semuanya masih anak-anak nggak datang ke rumah, mungkin saya nggak akan pernah menyewa film ini. Jujur aja, dari covernya saya sudah dapat menebak apa yang bakal terjadi di dalamnya. Tipikal fairy tale a la Walt Disney.
Namun, setelah benar-benar melihatnya, saya agak berubah pikiran. “Enchanted” tidak buruk-buruk amat, kok. Bahkan, ada ide-ide baru dalam alur ceritanya, yang membedakannya dengan kisah dongeng pasaran lainnya. Yah, walaupun ide baru ini jadi mengaburkan genre film itu sendiri: drama atau fantasi?
Ide ini adalah: transformasi tokoh Giselle, pangeran Edward, Nathaniel, Pip the Chipmunk, dan ratu kejam Narissa dari dunia kartun ke dunia nyata di New York. Pada awalnya mereka ditampilkan dalam bentuk animasi grafis Disney semacam Snow White atau Cinderella, namun kemudian berubah ketika Giselle memasuki sumur magis yang membuatnya terdampar di kota New York (tepatnya di Times Square).
Di New York, gadis dongeng ini kebingungan karena dunianya sangat berbeda dengan tempat asalnya, Andalusia. Ia mengalami kesulitan dalam berbagai hal, misalnya komunikasi. Sebagai gadis dongeng, mungkin wajar saja baginya untuk berbicara dengan bahasa puisi atau bernyanyi. Namun bagi “manusia” normal, kehidupan tidaklah sesimpel fantasi.
Perbedaan persepsi ini paling terasa saat Giselle bertemu pria bernama Robert (Pat Dempsey). Robert pernah ditinggal istrinya, dan ia berencana menikahi pacarnya yang sudah dikencaninya selama lima tahun. Jadi, menurut Robert, cinta itu tidak mudah dan tidak ada yang namanya “hidup bahagia selamanya”. Hal ini berbeda sekali dengan keyakinan Giselle yang selalu mengkhayalkan kehidupan sempurna setelah bertemu dengan pangeran sejati. Dan mendapatkan “true love’s kiss”. Yeah, yeah.
Akhirnya selang waktu berjalan, mereka dapat melihat melalui sudut pandang yang berbeda. Giselle yang sebelumnya cinta buta terhadap pangerannya dari negeri dongeng, pangeran Edward (James Mardsen), mulai berhati-hati dan menuntut lebih. Ia mulai belajar untuk berkencan, supaya ia dan pangeran mengenal satu sama lain. Dan yang mengejutkan, ternyata mereka tidak secocok saat pertama kali mereka bertemu dulu.

Jika Giselle dan pangeran Edward sudah berhasil memasuki New York, maka giliran ratu jahat Narissa datang untuk memperumit suasana. Bersama-sama ajudannya Nathaniel (Timothy Spall), sang ratu berencana membunuh Giselle. Kehadirannya ini tak pelak membuat suasana dalam “Enchanted” menjadi lebih hidup. Apalagi dengan kehadiran tokoh CGI Pip berwujud chipmunk. Animasinya lucu dan menggemaskan, bok!
Tidak ada yang salah dari ide ceritanya, karena seperti yang saya bilang, idenya cukup unik. Membawa dongeng ke dunia nyata, dan menjalani kehidupan a la dongeng di dunia nyata. Salah satu scene yang saya suka adalah pada saat Giselle bernyanyi memanggil para binatang di apartemen Robert untuk membantunya membersihkan rumah. Binatang yang datang pun aneh-aneh, ada puluhan tikus, burung merpati, dan ratusan lalat. Fiuh, rumah jadi heboh.
Plus adegan saat Giselle <-merobek-robek-> “memanfaatkan” gorden dan karpet milik Robert untuk membuat baju buatan sendiri. Hehehe, tipikal putri yang serba bisa!
Dan kalau mau diperhatikan, film “Enchanted” juga sedikit menyinggung film kuno Disney lainnya dalam bentuk parodi. Ini juga manjadi satu nilai plus. Seolah-olah “Enchanted” ingin menertawai dunia khayal tempat mereka hidup selama ini, yaitu animasi kuno Disney yang selalu mengangkat tema pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya.
Yang sedikit mengganggu adalah tempo di awal-awal cerita. Meskipun animasi pembukanya lucu banget, tapi kemudian semuanya berubah karena cerita jadi terkesan berjalan lambat. Saya hampir mati bosan di setengah film pertama, dan kemudian berhasil mendapatkan mood saat cerita mendekati klimaks.
Anyway, endingnya sangat mengejutkan dan diluar dugaan. It’s brilliant.

