
Genres: Art/Foreign and Drama
Starring: Helen Mirren, Michael Sheen, James Cromwell, Sylvia Syms, Helen McCrory
Directed by: Stephen Frears
Masih ingat dengan hebohnya kematian Princess Diana dari Kerajaan Inggris? Yeah, meskipun udah lama, kita samar-samar masih bisa merasakan betapa sedihnya publik Inggris saat ditinggal oleh Putri dari Wales itu, walaupun ia bermusuhan dengan pihak kerajaan.
Nah tema inilah yang diangkat oleh film The Queen, yaitu seputar kontroversi kematian putri Diana. Meskipun begitu, cerita ini diambil dari sudut pandang sang ratu, yaitu Ratu Elizabeth II, dan perdana mentri muda Inggris saat itu, Tony Blair.
Alkisah pada saat Tony Blair (Michael Sheen) terpilih menjadi perdana mentri termuda sepanjang sejarah Inggris, pihak kerajaan merasa khawatir tradisinya terancam karena Blair berpandangan modern. Istana yang kolot tidak akan rela seandainya tradisi yang telah bertahan selama beribu tahun terancam begitu saja.
Ratu Elizabeth II (Hellen Mirren) sendiri juga merasa sedikit was-was dengan masalah ini. Apalagi istri Tony Blair yang bernama Cherie (Helen McCrory) dikenal suka melecehkan tradisi kerajaan.
Hubungan PM dan Ratu pun berjalan aneh untuk beberapa saat. Baru kemudian ketika berita putri Diana meninggal, mereka berdua harus menentukan sikap dengan jalannya masing-masing. Sang Ratu dengan gaya kolotnya, lalu sang PM dengan gaya revolusionernya.
Konflik The Queen adalah perdebatan antara pihak kerajaan dengan Tony Blair mengenai pemakaman Putri Diana. Pihak kerajaan berpendapat bahwa sebaiknya pemakanan dilangsungkan di tempat tertutup dan biasa-biasa saja. Namun pihak Blair mendesak untuk mengadakan pemakaman terbuka plus dengan pengibaran bendera setengah tiang di depan istana Buckingham.
Upacara kematian seperti ini belum pernah ada sebelumnya, bahkan seolah melanggar tradisi, apalagi untuk seorang putri yang sudah tidak diakui lagi oleh pihak kerajaan. Permintaan Blair untuk membuat pengecualian adalah atas dasar desakan rakyat Inggris yang mencintai Putri Diana.
Mungkin kita masih ingat bahwa Tony Blair adalah orang pertama dari pihak pemerintah yang menyatakan bela sungkawa pada publik setelah berita kematian Diana. Sedangkan pihak kerajaan baru memberikan pernyataan resmi setelah satu minggu desakan rakyat dan PMnya. Kita mungkin juga masih ingat bahwa kota London pernah lumpuh total gara-gara pemakaman Diana dan bunga-bunga bela sungkawa pernah memenuhi gerbang istana Buckingham hingga memblokir jalan.
Inilah bukti fenomenalnya kematian Diana, dibenci oleh pihak istana, namun dicintai rakyatnya.
Dari sini muncul konflik utama The Queen yaitu tekanan batin yang dialami oleh Sang Ratu. Di satu sisi, ia harus memenuhi permintaan publik dan perdana menterinya agar menyelamatkan muka kerajaan yang seolah menjadi musuh rakyat atas kejadian ini. Namun di sisi yang lain ia harus menjaga tradisi dan mendengarkan pendapat-pendapat pihak internal kerajaan yang mayoritas tidak peduli pada Diana.

Ratu Elizabeth II diangkat memakai mahkotanya sejak kecil, dan ia tidak pernah mengalami hal di luar dugaan seperti ini. Apalagi dengan pemikirannya yang sangat kolot karena tumbuh di masa perang dunia ke-2 semakin menambah konflik batin dalam hidupnya.
Oiya, dalam film ini juga banyak cuplikan-cuplikan TV putri Diana yang patut dikenang. Bagaimana ia dianggap sebagai Ratu oleh rakyat Inggris, dan bagaimana mereka bersimpati padanya. Meskipun ia tidak diperankan langsung oleh aktor, namun kita akan merasakan aura dominan Diana dalam film ini.
Mengenai Tony Blair, di sini ia digambarkan sebagai penganut modern yang juga menghormati tradisi kerajaan. Pada awalnya ia terlihat membenci tradisi istana, namun seiring cerita berjalan, kita akan melihat bahwa ia juga sangat menghormati sang ratu dan menghormatinya dengan prinsip-prinsipnya.
Dari film ini setidaknya kita mendapat pengetahuan tentang apa yang terjadi setelah kematian putri Diana, terutama dari pihak kerajaan. Well, seenggaknya dari pandangan sang sutradara, hehehe. Ditambah lagi kita akan diajak melihat sekilas kehidupan istana beserta tradisi-tradisinya yang sakral. Jarang-jarang kita bisa nonton film yang settingnya lumayan baru kayak gini, terinspirasi dari kisah nyata lagi.

