
Pemain : Cut Mini, Ikranegara, Zulfanny, Ferdian, Verrys Yamarno, Lukman Sardi, Tora Sudiro, Mathias Muchus, Rieke Dyah Pitaloka
Genre : Adaptasi, Drama, Kids/Family, Biopic
Sutradara : Riri Riza
Ribuan (benarkah?) orang sudah mengantri ticket premiere-nya dan begitu juga minggu-minggu berikutnya antrian itu seakan tidak pernah berkurang. Bahkan yang sudah nonton kepengen berebut tiket lagi, hanya untuk menyaksikan film satu ini… Inilah fenomena Laskar Pelangi.
Mungkin sudah bukan rahasia umum lagi kalau Laskar Pelangi adalah sebuah terobosan dalam dunia perfilman Indonesia, walaupun sebelumnya juga ada film-film yang “agak mutuan dikit”.
Yah, langsung ajah. Laskar Pelangi, bagi yang udah pernah membaca bukunya, mungkin menemukan beberapa hal yang hilang atau malah ditambahin dalam film ini. Hal ini wajar saja, bahkan sangat diperlukan untuk membentuk identitas LP dari segi layar lebar.
Mungkin beberapa kekurangan sempat terlihat, seperti kurang “greget”nya pemeran-pemeran anggota laskar pelangi selain Ikal, Mahar, Lintang, dll. Suasana “muka datar” sempat ada dan lumayan mengganggu (menurut saya).
Tapi begitulah Riri Riza and Mira Lesmana bersikukuh untuk memunculkan tokoh-tokoh lokal asli dari Belitong, jadi logatnya melayunya kental banget. Cut Mimi yang memerankan Bu Mus juga asik banget aksennya.

Yang saya suka dari LP ini, adalah sense of humour nya sutradara, dalam banyak/ beberapa scene dia mampu membuat penonton tertawa ngakak. Namun ada juga saat-saat sedih yang hampir membuat seluruh audience rabun karena berkaca-kaca.
Misalnya adegan lucu: pas Ikal ketemu A Ling pertama kali. Ada effect supergokil yang dijamin bikin perutmu sakit. Terus saat pertemuan mereka berdua berlanjut, kekonyolan cinta monyet itu terus saja mengocok perut.
Lalu untuk contoh adegan sedih, yaitu pas Pak Harfan meninggal dan Bu Mus jadi mogok ngajar dan anak-anak laskar pelangi terlantar. Ditambah lagi pas Lintang nggak bisa sekolah lagi gara-gara ayahnya mati.
Finally, Laskar Pelangi sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat direkomendasikan, karena selain sebagai oase di tengah padang pasir dunia movie Indonesia, film ini juga dapat menyuntikkan semangat pendidikan di tanah air.
“Maju terus Indonesia, pantang mundur generasi muda! Jangan kalah sama anak-anak Laskar Pelangi!” Seolah begitulah pesannya.
Btw, mau tahu wajah-wajah asli para Laskar Pelangi? Dikurtip dari wiki, neeeh…



Laskar Pelangi…
Novel pertama yg g baca
Film indonesia pertama yg bikin g berkaca-kaca
Film bioskop pertama yg g tonton lbh dr sekali
Keywords yg paling sering g ketik di search engine
why….???
karena “spirit” yg ada didalamnya
@joseb
Yeap, Anda benar. Laskar Pelangi dapet banget
Saya setuju banget kalo LP ini merupakan oasis di tengah padang pasir yang panas dan gersang. Kita bisa lihat bagaimana sibuknya “orang2″ saat ini terlalu menuntut hak2-nya, sementara murid2nya “terbengkalai”. Bu Mus, sosok yang terus dan terus membina muridnya, dengan banyaknya keterbatasan yang ada, mampu “mencolokkan” jari2nya ke dalam mata banyak orang. Bravo, Bu Mus….
@Iis Kusaeri
Hehehe, barangkali perlu diadakan “satu hari nonton Laskar Pelangi” buat guru-guru biar semangat lagi. Muridnya juga diajak biar semangat belajar, wkwkwk
Saya juga rela kok nonton lagi
Asw…..
Subhanallah,,,,
assalamualaikum… Kami warga brunei begitu tersentuh menyaksikan laskar pelangi ini…. Cerita yang begitu menyentuh perasaan.. Jiwa yang kental mengejar cita2.. Pelakon yang bagus.. Sedih dan lucu