
Genres: Action/Adventure, Crime/Gangster and Adaptation
Starring: Timothy Olyphant, Dougray Scott, Olga Kurylenko, Robert Knepper, Ulrich Thomsen
Directed by: Xavier Gens
Maafkan saya… resensi ini agak panjang karena ada banyak hal yang perlu dituangkan. Mohon betah saja membacanya…
“Hitman” adalah film bertemakan -agen- pembunuh rahasia dan konspirasi politik. Pembunuh-pembunuh tersebut dididik dan dilatih dari anak ingusan sampai jadi pembunuh sebenarnya.
Agen tokoh utamanya bersandi “47″, gundul, keren, dan punya tato bentuk barcode di tengkuknya. Emang kelihatan nggak biasa buat jadi pembunuh, kan terlalu mencolok?
Biarlah…
Intinya, 47 itu adalah agen pembunuh yang paling handal dan tipikal tokoh utama yang nggak pernah kalah kalau berkelahi. Dia ditugasi untuk membunuh presiden Rusia dan tugasnya gagal karena dia dijebak pihak lain. Dia lalu mengejar pihak tersebut dan bertekad akan menghabisinya.
Dalam proses pencarian ini dia nggak sendirian. Ada FSB (inteligen rahasia Russia), interpol, dan CIA yang turut meramaikan suasana. Maksudnya suasana untuk membunuh agen 47 ini.
Demikian singkatnya, aslinya silakan tonton sendiri.
Setelah saya nonton film ini… Saya rasa konsep ceritanya masih… mentah. Sutradara kurang memberi perhatian pada hal-hal yang lebih penting untuk digali, dan malah membesar-besarkan sesuatu yang nggak penting-penting amat, bahkan mengganggu.
Misalnya, yang kurang tergali lebih dalam: tentang organisasi tempat pembunuh-pembunuh macam agen 47 itu dilatih. Di screen pembuka sudah diperlihatkan sekelumit tentang anak-anak yang dilatih untuk bertahan hidup. Lalu, sudah selesai gitu aja.
Saya pikir itu penting buat penonton untuk tahu gimana sih posisi agen gundul itu di film ini, jahat atau baik atau gimana. Kan dari situ bisa tumbuh rasa simpati atau malahan benci sama dia. Untuk mempertegas peran agen gundul itu lah. Antagonis atau protagonis.
Setelah itu: tampilan nyeleneh para agen yang gundul, dan bertato di kepala, kan bisa dilihat semua orang. Rasanya agen profesional gitu nggak akan melakukan sesuatu yang bodoh dengan memperkenalkan ciri khasnya (tato), kan jadi gampang tertangkap. Nggak logis juga.
Tapi kok para interpol dan FSB pada nggak bisa menemukan agen bertato ini ya? Oh iya, kan dia tokoh utama, nggak keren dong kalau ketahuan… Atau polisinya yang kebangetan… Gak tau lah.
Trus… tahu nggak kalau para pembunuh itu, selain bawa pistol, juga bawa pedang? Kayaknya itu berlebihan. Scene di kereta yang menampilkan empat agen gundul saling bertarung pake pedang juga nggak ada artinya, cuma buat bumbu-bumbu aja biar filmnya keliatan seru.
Hmm…. lalu… tahukah Anda bahwa pembunuh 47 kita ini bisa jatuh cinta? Ya, tiba-tiba di tengah film ada satu tokoh cewek (pelacur) yang dibiarkan hidup. Pertama kukira bakal segera dibunuh, eehhh ternyata malah jadi pacarnya… Ihhh, bikin ill-feel aja nih agen gundul.
Keren-keren seleranya kok murahan…
Saya rasa kehadiran pacar itu nggak perlu, nggak ada gunanya untuk membangun karakter si agen, malah membuat karakternya semakin nggak jelas. Masalahnya, sejak awal dia sudah digambarkan berdarah dingin, masak ditengah-tengah imagenya jadi berubah 180 derajat gara-gara wanita?
Baiklah, dari tadi kok cercaan melulu, mana sisi baiknya?
Adegan-adegannya seru kok, terutama saat agen keren itu mau bunuh-bunuhan, pasti bikin jantung deg-degan. Terus proses pencarian yang muter-muter ala film inteligen rahasia juga bikin kita berdecak kagum atas kehebatan agen satu ini, meskipun film ini masih cukup jauh untuk bisa disandingkan dengan “The Bourne Ultimatum” yang lebih padat dan nggak buang-buang waktu.
Terakhir, satu cara agar kita bisa menonton “Hitman” dengan nyaman adalah dengan berpikir terbuka bahwa segala hal bisa terjadi dalam film, walaupun itu nggak logis dan terkesan dibuat-buat.


0 Tanggapan ke “Hitman”