Schindler’s List

Schindler's List

Genres: Drama, Biopic and War
Starring: Liam Neeson, Ben Kingsley, Ralph Fiennes, Caroline Goodall, Jonathan Sagalle
Directed by: Steven Spielberg
Produced by: Kathleen Kennedy, Steven Spielberg, Gerald R. Molen

Emang nggak salah kalau film ini adalah salah satu film terbaik sepanjang masa….

Settingan pada tahun 1940-an, pada saat perang dunia II. Tapi ini bukan film perang, ceritanya tentang kemanusiaan. Malahan ada unsur bisnis-bisnisnya. :b

Ada dua cerita utama: 1) Perjalanan bisnis seorang Oskar Schindler yang pada akhirnya berhasil menyelamatkan nyawa lebih dari 1000 orang Yahudi, tanpa diduga sebelumnya. Dan 2) Holocaust. Holocaust—bagi yang baru denger—adalah peristiwa tragis pada PD2 karena melibatkan pembantaian 6 juta orang Yahudi, yah untuk melenyapkan ras-nya gitu.

Nah di Schindler’s List ini kita akan melihat Holocaust dari perspektif yang berbeda, dan dijamin kita nggak bakal ngelupain peristiwa ini. Cara pandang kita nggak bakal sama lagi.

Cerita garis besarnya: Oskar Schindler ingin membangun bisnis di tengah-tengah perang, dengan mempekerjakan orang-orang Yahudi. DI pabriknya, orang Yahudi dapat hidup terjamin dan terhindar dari kematian. Pada akhirnya, pabrik ini berhasil menampung banyak Yahudi. Schindler nggak pernah tahu kalau pabriknya ini akan dapat menyelamatkan banyak nyawa dari kejahatan perang.

Sudah, ya. Ceritanya panjang… ;P

Banyak yang bisa dikomentari, terutama perkembangan tokohnya. Saya pribadi sangat kagum dengan gaya bertutur seorang Steven Spielberg hingga mengantarkan para tokohnya ke arah yang tidak disangka-sangka. Berikut ini adalah opini saya tentang segelintir peran dalam Schindler’s List

1) Oskar Schindler (Liam Neeson)

Sosok inilah yang menjadi fokus utama di sepanjang film. Dari awal, ia sudah menyedot sebagian besar perhatian kita. Berpenampilan misterius namun penuh kekuatan, ia pada awalnya seolah digambarkan sebagai tokoh yang ambisius dan rela melakukan apa saja demi mendapat apa yang ia inginkan.

Ambisinya saat itu adalah mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari perang yang sedang berkecamuk. Ia mendekati para perwira Jerman, lalu melakukan perjanjian bisnis. Ia berencana memproduksi panci dalam skala industri. Bener, PANCI. Alat dapur yang bawahnya gosong.

Lalu? Ia mendekati seorang Yahudi bernama Itzhak Stern (Ben Kingley) untuk bekerja sebagai akuntan dan managernya. Usaha Schinder tidak mudah, karena Stern menganggap bahwa usaha ini hanya akan membuat para orang Jerman untung, sedangkan para Yahudi rugi.

Schindler memutuskan untuk mempekerjakan Yahudi karena mereka rela dibayar murah. Pada saat itu, Yahudi yang tidak bekerja/ tidak berguna akan dibuang. Jadi, lapangan pekerjaan yang disediakan Schindler di satu sisi memang menguntungkan.

Tidak hanya itu akal bulus Schindler, ia bahkan menempati rumah Yahudi yang bukan miliknya. Pemiliknya baru saja diusir oleh tentara Jerman, dan Schindler tampak senang menerima rumah tersebut. Hmm, oran yang tidak punya hati….

Namun, seiring dengan berkembangnya plot, kita akan menyadari bahwa ada sedikit kebaikan dalam hati Schindler. Misalnya pada saat ada seorang cewek Yahudi yang meminta agar ayah-ibunya dipekerjakan. Schindler dengan diam-diam menerima permohonan itu karena ia tahu betapa Yahudi diperlakukan dengan sangat amat buruk oleh rezim Nazi.

Schindler pun akhirnya menyadari, bahwa pabriknya adalah tempat bersandar para orang malang itu. Seandainya pabriknya tidak ada, mungkin Yahudi sebanyak itu sudah terbunuh.

Semenjak menyadari hal itu, ia berubah sangat amat drastis menjadi orang yang suka berbuat baik. Ia suka menghafal setiap nama orang, bahkan para pegawainya. Hapalan ini pun akhirnya berguna ketika Jerman akan melaksanakan Holocaust. Ia mendaftar banyak nama-nama untuk ditebus pada komandan Jerman, dengan menggunakan seluruh keuntungan perusahaan Pancinya.

Pada akhirnya Schindler merupakan sosok penyelamat yang sangat peduli terhadap manusia. Ia bahkan menyesal telah menyelamatkan HANYA 1000 orang. Ia ingin menyelamatkan lebih banyak lagi jika ia mampu. Well done.

2) Itzhak Stern (Ben Kingsley)

Manager operasional pabrik panci ini pada awalnya terlihat tidak bersahabat karena ia merasa inferior, mengingat bahwa ia adalah seorang Yahudi. Ia menjadi sedikit tidak yakin ketika seorang Schindler merekrutnya dan mempercayainya. Ia bahkan tidak pernah menerima ajakan Schindler untuk minum.

Pernah suatu kali, Schindler menggunakan ungkapan-ungkapan untuk menyatakan rasa terima kasihnya pada Stern. Namun Stern sepertinya agak lambat dalam mencerna ungkapan-ungkapan, jadi Schindler harus menjelaskannya dengan bahasa lugas. Bahkan setelah Stern mengerti yang dimaksud, ia tidak dapat memberikan suatu respon yang layak.

Dasar orang kaku.

Bagaimanapun, pengabdiannya kepada pabrik sangat besar. Ia berani melakukan aksi ilegal semacam memalsukan dokumen, dan lain-lain. Padahal taruhannya nyawa.

Tapi… Sekeras apapun batu kalau dikasi air bisa pecah juga. Semakin banyak kebaikan hati Schindler yang disaksikannya, sikapnya pun mulai melunak. Ia masih belum mau diajak minum, tapi kepercayaannya jelas sekali terlihat. Ia pasti tidak pernah menyangka bahwa sosok Schindler yang selama ini seperti orang jahat adalah seorang yang peduli pada manusia lainnya, bahkan dari ras yang paling dibenci.

Stern adalah orang yang mengetikkan nama-nama pada Daftar Schindler, atau Schindler’s List. Ia tidak mampu berkata-kata ketika tahu bahwa 1000 nama itu akan ditebus oleh tuannya, dengan menggunakan seluruh uang yang selama ini mereka kumpulkan. Ia begitu terharu dengan itu, dan pada saat itulah ia menawarkan diri untuk minum bersama Schindler.

Schindler and Stern

Oskar dan Itzhak

3) Amon Goeth (Ralph Fiennes)
Dia adalah komandan Nazi yang keren sekaligus kejam. Sering menggunakan kata-kata kotor, suka main kasar, namun dialah tokoh yang paling serius dalam film ini. Sorot matanya mampu menghunus siapa saja.

Dia dikirim dari daerah lain, lalu menempati wilayah Schindler. Ia juga mempekerjakan Yahudi, namun ia tidak disukai oleh pekerjanya. Kalau ketahuan salah, langsung tembak kepalanya. Bahkan, ada pekerja yang berkata benar, juga ditembak tanpa ampun. Dasar, kontrol dirinya parah banget.

Ohiya dia juga hobi main sniper-sniperan. Dia memantau pekerjanya dari atas balkoni villanya yang tinggi, kalau dia nemu pekerja yang malas, langsung ditembak. Hiiiyy.

Dia pernah dinasehati sama Schindler. Menembaki orang bersalah itu bukanlah kekuatan, kekuatan adalah: menahan keinginanmu untuk membunuh padahal kau mampu melakukannya.

Bijak banget.

Sejak saat itu Amon Goeth bertransformasi menjadi seorang yang suka memaafkan, walaupun sesekali ia bisa kehilangan kendali secara mendadak.

Amon

Amon Goeth

Untuk cerita tentang Holocaust…. Ada satu latar yang menggambarkan seolah-olah sedang hujan salju. Tapi setelah dilihat-lihat itu adalah abu dari pembakaran besar-besaran. Ternyata Amon Goeth sedang membakar bergunung-gunung mayat Yahudi dan abunya nyebar kemana-mana. Kebayang nggak sih?

Lalu scene pada saat penggerebekan kamp-kamp Yahudi. Terutama yang malam hari, saya salut sama Spielberg karena niat banget buat film-nya. Detail-detail yang kita bahkan nggak terbesit sama sekali. Top deh!

Hadu sepertinya sudah banyak. Sebenarnya bisa lebih banyak lagi, dijamin nonton film ini nggak nyesel. Perkembangan plot-nya sangat cantik disertai ending yang indah. Unsur kekerasan tidak terlalu banyak, tapi ada sedikit gambar-gambar dewasa.

Film ini akan mengantarkan kita ke sudut pandang yang berbeda mengenai perang. Dan sepanjang hari kita akan terus mengingat kebesaran hati Oskar Schindler setelah duduk terpaku di sofa buat nonton film 3 disc ini….

Iklan

11 Responses to “Schindler’s List”


  1. 1 hamba allah Februari 14, 2009 pukul 8:15 am

    bagi gw semua yg berkaitan dg zionis adalah bullshit alias omong kosong.dan termasuk fakta2 yg coba dipaparkn si yahudi spelberg ini.film ini propaganda bangsa zionis agar negara2 eropa terus menerus didèra rasa bersalah kpd bg yahudi,padahal kl mau jujur ada tragedi kemanusiaan yg lbh besar yg ditutupi yahudi zionis .mereka merencanakn pemusnahan etnis palestina.pdhl itu tjd didpn mata dunia.kemana PBB ? apa yg dilakukan PBB ?kaum yahudi zionis tdk pantas menerima belas kashn dr umat manusia

  2. 3 subianto September 22, 2009 pukul 8:57 am

    harusnya ini masuk dalam daftar film dengan latar sejarah yang kacau

  3. 4 rahma Desember 27, 2011 pukul 12:20 pm

    i just like this movie as it is historical one…kalau benci jewish, jangan gunakan apapun produk yang diproduksi ama keturunannya yah!! jangan cuma komentar , tapi masih pakai produk jewish dan ” depending on them ”

  4. 5 leonardfresly Agustus 10, 2014 pukul 8:14 am

    nice article, lagi belajar nulis juga semoga bisa jadi seperti sampean hehe http://leonardfresly.blogspot.com/


  1. 1 Karl Jobst Lacak balik pada Maret 10, 2015 pukul 3:21 am
  2. 2 Terry Simpson MD Lacak balik pada Maret 13, 2015 pukul 5:04 am
  3. 3 Code 5 Group Lacak balik pada Maret 13, 2015 pukul 6:47 am
  4. 4 Brandon Colker Lacak balik pada Maret 15, 2015 pukul 7:40 pm
  5. 5 Ian Andrews Lacak balik pada Maret 17, 2015 pukul 9:11 am
  6. 6 Judge Ray Harding Lacak balik pada Maret 21, 2015 pukul 5:06 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Admin

Laman

Jadwal Tayang

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Blog Stats

  • 108.291 hits
Add to Technorati Favorites
Iklan

%d blogger menyukai ini: