Archive for the 'Art/Foreign' Category

Elizabeth – The Golden Age

Genres:     Art/Foreign, Drama, Biopic and Sequel
Starring:       Geoffrey Rush, Clive Owen, Cate Blanchett, Abbie Cornish, Jordi Molla
Directed by:     Shekhar Kapur

Yeah, film ini mengangkat tema sejarah kerajaan Inggris di jaman Ratu Elizabeth yang diperankan dengan apik oleh Cate Blanchett. Not bad.

Alurnya mudah diikuti, hanya saja perlu konsentrasi kalau ingin mengikuti dengan baik. Tokoh-tokohnya banyak dan penuh konspirasi politik. Tapi sejauh saya nonton, hal ini bukan masalah.

Ceritanya ringan, malah agak tipikal. Untuk alur tentang peperangan Inggris dan Spanyol itu lumayan. Tapi ada kisah cinta yang sudah -basi- biasa, yaitu perselingkuhan.

Yang saya suka dari Elizabeth: The Golden Age ini settingannya. Yah, seperti film sejarah umumnya sih. Ada istana supermegah, ada kostum superjadul, dll, dll. Lanjutkan membaca ‘Elizabeth – The Golden Age’

Iklan

The Queen

The Queen

Genres:     Art/Foreign and Drama
Starring:       Helen Mirren, Michael Sheen, James Cromwell, Sylvia Syms, Helen McCrory
Directed by:     Stephen Frears

Masih ingat dengan hebohnya kematian Princess Diana dari Kerajaan Inggris? Yeah, meskipun udah lama, kita samar-samar masih bisa merasakan betapa sedihnya publik Inggris saat ditinggal oleh Putri dari Wales itu, walaupun ia bermusuhan dengan pihak kerajaan.

Nah tema inilah yang diangkat oleh film The Queen, yaitu seputar kontroversi kematian putri Diana. Meskipun begitu, cerita ini diambil dari sudut pandang sang ratu, yaitu Ratu Elizabeth II, dan perdana mentri muda Inggris saat itu, Tony Blair.

Alkisah pada saat Tony Blair (Michael Sheen) terpilih menjadi perdana mentri termuda sepanjang sejarah Inggris, pihak kerajaan merasa khawatir tradisinya terancam karena Blair berpandangan modern. Istana yang kolot tidak akan rela seandainya tradisi yang telah bertahan selama beribu tahun terancam begitu saja.

Ratu Elizabeth II (Hellen Mirren) sendiri juga merasa sedikit was-was dengan masalah ini. Apalagi istri Tony Blair yang bernama Cherie (Helen McCrory) dikenal suka melecehkan tradisi kerajaan.
Lanjutkan membaca ‘The Queen’

Pan’s Labyrinth

PL

Genres: Art/Foreign, Science Fiction/Fantasy and Thriller
Starring: Maribel Verdu, Sergi Lopez, Ariadna Gil, Alex Angulo, Doug Jones
Directed by: Guillermo del Toro
Produced by: Javier Mateos Morillo, Luis Maria Reyes, Belen Atienza

WARNING: ANAK KECIL JANGAN BIARKAN NONTON SENDIRIAN

Sebab kalau kamu mengira bahwa ini adalah cerita dongeng biasa….. Kamu nggak salah, tapi itu juga nggak 100% benar. Kejeniusan Guillermo Del Toro ditumpahkan dalam pemolesan film yang nyaris sempurna. Kisah-kisahnya terjalin dengan rapi, meski dapat menimbulkan ambiguitas atau tafsiran yang bervariasi bagi peminat yang berbeda pula.

Mungkin ini karena ada dua alur cerita yang ada di Pan’s Labyrinth. Yang pertama adalah cerita sarat fantasi, dan yang kedua adalah kehidupan nyata yang kejam. Dan menariknya, dua-duanya saling berkesinambungan.

Bagian Dongeng:
Dulu kala ada seorang Putri Bawah Tanah yangs angat ingin pergi ke dunia manusia. Setelah kabur dari istana, ia akhirnya melihat cayaha matahari yang pertama. Sialnya, ia malah buta dan mati karena lingkungan dunia manusia yang liar.

Ayahnya, si Raja, percaya bahwa suatu saat Putri akan kembali. Makanya ia perintahkan seluruh pintu agar terbuka dan menunggu kedatangan Putri, entah kapan. 100 tahun, 200 tahun…. Ia akan menunggu.

Bagian Non-dongeng:
Settingan tahun 1944 di Spanyol, di tanah pemberontak. Ofelia (Ivana Baquero) adalah seorang gadis yatim yang mempunyai ayah baru bernama Kapten Vidal (Sergi López). Ibunya hamil dan mereka pindah ke markas Ayahnya. Jelas sekali bahwa ayahnya hanya tertarik pada calon putranya yang sebentar lagi akan terlahir.

Bagian sebelumnya yang menceritakan bahwa ada Putri bawah tanah…. Itulah Ofelia yang “kemungkinan besar” adalah reinkarnasi sang Putri.

Yah, agak susah memang, menentukan apakah dongeng ini adalah kenyataan atau benar-benar cuma khayalan Ofelia. Dia dikenal maniak buku, terutama buku fantasi. Dia bisa saja membayangkan yang macam-macam mengenai Putri yang hilang itu, dan tanpa sadar menciptakan dunianya sendiri. Dunia yang sebenarnya tidak eksis.

Lagipula di dunia nyata dia tidak cocok dengan ayah tirinya, dan ibunya berangsur-angsur berubah karena kehamilan yang tua. Di dunia yang asing itu, Ofelia mencari “pelarian” ke seorang pelayan bernama Marcedes (Maribel Verdú), yang ternyata adalah kakak dari salah satu pemberontak. Ofelia yang mengetahui hal ini memutuskan diam saja dan tetap menapaki dunia khayalnya.

Suatu hari ia bertemu peri (jelek) yang menuntunnya ke sebuah labirin. Di sana ia untuk pertama kalinya melihat sosok Pan (Doug Jones), seorang pengawal Kerajaan Bawah Tanah yang menanti kehadiran Putri. Ofelia boleh kembali ke istana SETELAH memenuhi 3 tugas yang diberikan. Tidak semuanya mampu dilalui dengan mudah.

3 tugas itu…. Jangan kira tugasnya segampang Turnamen Triwizard di Harry Potter. Setidaknya tugas-tugas di Triwizard lebih manusiawi saripada tugas-tugas yang diberikan pada Ofelia. Dia harus: 1) mengambil/ merebut sebuah kunci dari perut kodok raksasa yang, ya ampun, jijik banget. 2) mencari belati aneh di markas Pale Man (lagi-lagi Doug Jones) yang ngeliatnya aja bikin mual. 3) tugas paling tidak manusiawi: mengorbankan adiknya sendiri.

Paleman
The Pale Man

Siapa coba, yang tahan dengan misi-misi macam begituan?

Yang aku suka dari film ini:

  1. Kebebasan penonton untuk menentukan arti dari perjalanan Ofelia, apakan cuma khayalan atau betulan nyata. Aku lebih suka membayangkan kalau itu ternyata cuma imajinasi, karena dengan begitu ceritanya bakal lebih tragis.
  2. Alur cerita yang tidak bisa ditebak. Kupikir pada awalnya ini cuma cerita Putri biasa gitu, tapi itu berubah sejalan dengan alur cerita yang ternyata lebih luas daripada itu. Ada cerita tentang kehidupan di balik itu semua
  3. Ada dua cerita inti: cerita Ofelia (fantasi), dan cerita Mercedes (kejamnya dunia). Dan dua-duanya nggak main-main, sungguh.
  4. Keterusterangan keblak-blakan Guilermo Del Toro dalam menampilkan suasana sadis (penuh darah dan semacamnya). Salah satu yang masih melekat di kepalaku adalah pada saat Kapten Vidak menjahit mulutnya sendiri.
  5. Ending yang cantik, menjalin rangkaian cerita dan mematrinya di kepala penonton selama beberapa hari ke depan.

Alex Rider: Operation Stormbreaker

aros

Genres: Action/Adventure, Art/Foreign, Thriller and Adaptation
Starring: Alex Pettyfer, Ewan McGregor, Robbie Coltrane, Mickey Rourke, Bill Nighy
Directed by: Geoffrey Sax

Wah, wah. Satu lagi film tentang remaja main mata-mata.

Alex Rider (Alex Pettifer) adalah remaja 14 tahun yang tinggal dengan pamannya, seorang bankir, dan babysitter bernama Jack (Alicia Silverstones). Suatu hari pamannya dibunuh dan Alex menghadapi kenyataan mengejutkan bahwa selama ini dia diasuh oleh seorang mata-mata MI6. Parahnya lagi, dia malah dikontak oleh badan intelligen Inggris itu untuk menggantikan tugas pamannya yang belum komplit.

MI6 menugaskannya karena berkeyakinan bahwa Ian Rider (Ewan McGregor), sang almarhum paman, telah mempersiapkan keponakannya untuk tugas intai-mengintai. Semasa hidupnya, Alex didorong untuk belajar tiga bahasa: Francais, Deutch, dan Nihongo. Selain itu ada juga pelajaran menyelam, mendaki, beladiri, blah blah blah, pokoknya semua adalah kemampuan standar seorang intel. Jadilah Alex seorang anak yang perfect. Alex menerima tawaran MI6 dengan dorongan akan mengungkap misteri terbunuhnya paman Ian. Dan menyelamatkan Jack dari ancaman deportasi (Jack memiliki kewarganegaraan Amerika, yang visanya telah habis dan terancam dipenjara).

Uh, misinya mengangkut masalah Stormbreaker, teknologi komputer terbaru yang diciptakan untuk kepentingan pendidikan anak sekolah Inggris. Diciptakan oleh orang bernama Darius Sayle (Mickey Rourke), yang memiliki dendam kesumat pada masyarakat Inggris. Dulu waktu Darius masih sekolah, dia selalu diejek karena dia orang asing. Dan salah satu teman sekolahnya adalah Perdana Menteri (Robbie Coltrane) yang menjabat sekarang. Jadi dia berencana menghancurkan Inggris lewat rilis Stormbreaker.

Kenapa Stormbreaker berbahaya? Ternyata di dalamnya ada virus genetika yang siap membunuh jutaan orang. Alex harus bekerja keras mengungkap ini.

Menurut saya pribadi, film ini terlalu maksa. Dengan berlatar kehidupan sehari-hari yang normal, jalan cerita malah terkesan tidak masuk akal. Badan intelligen mana yang mau mempercayakan misi sangat penting dan rahasia di tangan anak ingusan 14 tahun yang belum pernah berkenalan dengan dunia spionase? Meskipun dia memiliki pengetahuan layaknya seorang agen, tapi keadaan mentalnya belum siap menghadapi dunia yang penuh bahaya dan kebohongan. Apalagi setelah pamannya meninggal, pasti emosinya masih labil. Menakjubkan kalau Alex berhasil dalam misi ini.

Ketidakprofesionalan Alex terbukti dalam beberapa adegan yang menunjukkan bahwa dia cuma anak-anak yang sok jadi agen rahasia. Aah, jadi nggak seru. Nggak ada asiknya nonton “mata-mata ceroboh yang tertangkap”, padahal dia sedang memikul keselamatan jutaan jiwa di punggungnya. Buat apa memaparkan berbagai macam keahlian yang menyilaukan? Seperti kodok pake mahkota pengeran, dia nggak bakal bisa loncat soalnya mahkotanya terlalu berat. Pada dasarnya dia cuma kodok yang cuma bisa ngorek.

Film ini juga diepenuhi hal-hal tipikal misalnya, keberadaan seorang cewek supercantik bernama Sabina (Sarah Bolger) yang tentu saja potensial jadi teman cewek sang tokoh utama. Itu nggak cukup. Di akhir cerita si Alex malah ngajak Sabina ikut ke markas Darius Sayle. Uh?

Trus alat-alat pengintaian ala James Bond juga kebawa. Karena Alex masih anak-anak, dia dibekali yoyo yang ternyata adalah alat pelacak berbenang nilon khusus yang bisa dipake gelantungan ala mata-mata. Ada lagi tas parasut, obat jerawat yang bisa menghancurkan melelehkan besi hingga ketebalan 9 inchi (sekitar 22.5 cm), pena berisi obat hipnotis (?) yang disa ditembakkan sejauh 8 meter, dan terakhir…. Nitendo mini plus kartu gamenya. Hehehe.

Mengenai dua hal terakhir di atas: Salah sih enggak, cuman tipikal banget.

Tapi aksi-aksinya lumayan keren lho. Pertunjukan karate solo Alex, hmmmm, banyak gerakan-gerakan yang tidak saya mengerti tapi efektif buat menjatuhkan lawan. Lalu pas Alex mengejar mobil box berisi barang-barang pamannya, dia mengejar mobil itu cuman pake sepeda. Kebut-kebutan di jalan raya, bikin macet. Dan ajaibnya, dia selamat dengan indah!

Kesimpulan: aksinya boleh juga, apalagi dilakukan oleh remaja 14 tahun, walaupun menurut saya pemainnya terlalu tua untuk jadi anak 14 tahun. Yang jadi masalah adalah cerita yang maksa itu tadi. Tapi selepas itu, semuanya boleh.

Battle Royale II: Requiem

br_requiemFilm ini adalah sekuel dari Battle Royale I. Film dari negeri Sakura ini dibintangi oleh Fujiwara Tatsuya, Maeda Ai, Oshinari Shuugo, dan Takeuchi Riki. Oiya, bagi yang belum tahu Battle Royale itu apa, begini penjelasan singkatnya…. (Sekalian flashback ke Battle Royale I, ya. Hihihi ^^)

Diceritakan generasi muda masa depan mempunyai hubungan tidak harmonis dengan generasi tuanya, atau yang lebih kerap disebut sebagai “orang dewasa”. Kelakuan anak muda memburuk, kesadaran untuk belajar hilang, berganti menjadi sikap seenaknya sendiri yang memaksa orang dewasa turun tangan. Pak Kitano (Beat Takeshi), salah satu orang dewasa yang ingin menyadarkan anak muda kemudian berunding dengan tokoh-tokoh penting, dan kemudian menghasilkan suatu undang-undang baru bagi masyarakat Jepang yang disebut UU Battle Royale.

Apa sih, isinya? Battle Royale mengharuskan pengisolasian beberapa anak muda di suatu pulau, dan mereka harus membunuh satu sama lain untuk mencari pemenangnya. Si pemenang, ya dialah yang berhasil bertahan hidup sendirian. Ngeri kan? Nah suatu saat giliran kelas Nanahara Shuuya (Fujiwara Tatsuya) yang harus memainkan Battle Royale. Dengan bersenjatakan bermacam-macam alat, mereka dipaksa membunuh teman-temannya sendiri. Biar lebih yahud, mereka dibekali kalung yang dapat meledak jika mereka memasuki area terlarang.

Aaah, akhirnya cerita ini berakhir dengan kematian Pak Kitano karena dibunuh oleh Shuuya dan Noriko, teman ceweknya. Lalu nasib mereka berdua nggak jelas gitu….

Oops, kembali ke Battle Royale II. Kali ini peraturannya lebih menakutkan. Yang kebagian adalah kelasnya Kitano Shiori (Maeda Ai). Sebagai catatan, Kitano Shiori adalah anak perempuan dari Pak Kitano yang dibunuh oleh Shuuya tiga tahun lalu. Kemudian, untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya, dia mendaftarkan kelasnya sebagai peserta Battle Royale II. (Iiih, egois yaa?)

Peraturannya sedikit berbeda. Mereka bukannya disuruh untuk membunuh satu sama lain, tapi diperintahkan untuk mencari dan membunuh Nanahara Shuuya yang sekarang sudah menjadi teroris yang “menyatakan perang terhadap semua orang dewasa”. Kali ini mereka diberi senjata lengkap. Dan, bukan Battle Royale namanya kalo nggak ada…. Kalung! Mereka diberi kalung dan mereka berpasangan dengan orang yang memiliki nomor kalung yang sama. Dan jika pemilik salah satu kalung mati, yang lain ikut mati soalnya kalungnya meledak.

Battle Royale II ini lebih menegangkan dan lebih…. nggak jelas. Maksudku, masak ceritanya sampek menjalar di Iraq sono sih? Oooh, ternyata Shuuya belajar jadi teroris tuh dari Iraq? Terus pada akhir ceritanya, setting berubah di negara Timur Tengah lainnya. Gak tau tuh di mana….

Film ini juga penuh dengan adegan yang seolah-olah dramatis, padahal enggak blas. Apa ya? Mendramatisir? Apa itu ciri film Jepang, ya? Terus paling enggak selalu ada tokoh yang ekstrem. Misalnya di Battle Royale II ini ada Aoi Takuma (Oshinari Shuugo) yang terlihat menonjol karena dia paling peduli dan berisik. (Benar, berisik. Seperti tokoh-tokoh dalam komik) Ahh, tapi boleh lah kan dia tokoh utama? Lalu ada Kitano Shiori yang menonjol karena terkesan misterius, dingin, dan tegar.

Tapi, film ini belum kehilangan nuansa sadis seperti dalam Battle Royale I (BR I aja ya gampang). Bedanya kalo di BR I, tingkat kesadisan lebih bervariasi karena melibatkan berbagai macam senjata. Ada yang pakai shotgun, crossbow, pistol, kapak, celurit, dan lain-lain. Bahkan ada yang cuma dibekali teropong (!) dan…. tutup panci (!!). Ada yang mati karena bunuh diri juga, lhoo. Nah di BR II, paling-paling sadisnya karena tembak-menembak pakai AK-47, atau kena granat sampai hancur tak berbentuk. Yang hampir mirip tuh, adegan saat kalung meledak. Tapi menurutku efek yang ditimbulkan lebih sadis kalung BR II, ya? Soalnya darahnya lebih bercipratan dan lebih ngeri aja ngeliatnya (bayangkan kamu make kalung gitu, terus tiba-tiba meledak tepat di depan lehermu sampai darahmu muncrat ke mana-mana).

Kalo mau liat dari Battle Royale I, boleh aja malah dianjurkan banget. Biar kita bisa tahu asal-usul dari tokoh-tokoh di BR II. Yang jelas, jangan sampai UU ini diterapkan di Indonesia. Yang bener aja. Ngeliatnya aja tegang dan ngeri, gimana mainnya?

Death Note 2: The Last Name

Death Note the Last Name

Bagi penggemar manga, judul di atas pasti nggak asing lagi. Yupe, Death Note adalah salah satu karya Takeshi Obata dan sudah tamat sampai volume 12 (Tapi di Indo baru terbit). Manga ini menceritakan tentang seorang Yagami Raito (Versi kerennya: Light) yang mempunyai buku catatan mematikan yang disebut Death Note (Jepang: Desu Noto). Dengan Death Note yang ia punya, ia bisa membunuh siapapun hanya dengan menulis nama orang ke buku itu, dan beberapa detik kemudian orang itu akan mati (Serangan jantung, lah. Tabrakan, lah. Terserah). Selain itu Raito juga bisa berkomunikasi dengan Shinigami yang memiliki Death Note tersebut.

Dari manga yang fenomenal ini, dibuat adaptasi film layar lebar versi manusia (Jepang: Dorama) yang dibagi menjadi dua seri. Nah, Death Note: The Last Name ini merupakan seri terakhir dari dua filmnya. Setelah beberapa lama menunggu, aku jadi nonton nih movie (hahaha, akhirnya….). Dan aku nggak sabar memberi komentar:

Pertama, yang paling kelihatan itu sedikin penggubahan script dari Death Note versi manga. Yah, okelah. Kira the 3rd-nya diperanin cewek. Tapi mana Near dan Mello? Terus mana si Mikami Teru? Oooh, padahal udah nggak sabar liat pemerannya….

Terus kenapa si L nggak mati waktu Remu nulis di Death Note-nya? Maksudku, pas itu aku udah yakin kalo dia mati, ehh ternyata muncul lagi di akhir-akhir. Jadi dia yang menggantikan peran Near, ya… Boleh, boleh… Terus apa maksudnya pas terakhir dia ngomong sama ayahnya Raito? ”Sayonara, Yagami-san. Arigato Gozaimasu,” terus coklatnya jatuh dan dia nggak bergerak lagi. Apa dia mati? Kenapa matinya? Nggak jelas….

Tapi…. dibalik improvisasi itu semua, adaptasi film ini tetep superbagus kok. (Terlepas dari pemeran Raitonya yang kurang memuaskan, yaa) Tetep membawa nuansa dark-nya Death Note versi manga. Apalagi pemerannya L itu meyakinkan banget. Gokil amat si tuh orang! Aku suka banget adegan pas dia make topeng buat nyembunyiin identitasnya (LOL). Terus selain itu tentang kegemarannya selain memecahkan kasus: MAKAN. Wakakakaka, nggak kebayang enaknya jadi pemeran L. Soalnya di mana ada L, di sana ada makanan! Waah, pasti abis syuting beratnya naik lima belas kilo….

Terus…. apa yaa? Baru sekali tadi nonton, sih. Lagian aku liat yang nggak ada subtittle-nya. Jadi mengandalkan ingatan (versi manga Death Note) buat menerjemahkan apa yang terjadi. Oh, iya. Ending soundtrack-nya keren, bok! Benar-benar berjiwa Death Note (?).

Nah, bagi yang belum nonton, cepetan nonton! Meskipun udah namatin manganya, tapi nggak lengkap kalo belum liat doramanya. Dan bagi temen-temen yang belum pernah tahu apa itu Death Note, tonton aja nggak papa. Nyambung kok. (Tapi liatnya dari seri pertama, kekeke). Lagian nonton film ini bisa membantu kita buat mengerti garis besar cerita Death Note versi manga, yang baru-baru aja diterbitkan di Indonesia. Waaaaa, nggak sabaaaar!


Admin

Laman

Jadwal Tayang

Juli 2019
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Kategori

Blog Stats

  • 108.291 hits
Add to Technorati Favorites
Iklan