Archive for the 'Romance' Category

Atonement

Genres:     Drama, Romance, Adaptation and War
Starring:       James McAvoy, Keira Knightley, Saoirse Ronan, Brenda Blethyn, Vanessa Redgrave
Directed by:     Joe Wright

Pertama-tama, mungkin patut saya sampaikan bahwa film yang bertemakan cinta ini adalah salah satu film terbaik 2008 karena mampu bersaing dengan film lainnya di ajang Oscar. Ck ck ck, nggak heran, keren banget!

Setting di Inggris sebelum Perang Dunia II. Lokasinya sebagian besar di rumah bangsawan bernama Tallis, tapi sejalan dengan bergulirnya cerita, akan meluas.

Alur yang dipakai di sini pun cukup cerdas. Maju-mundur, tapi semua terangkai dengan rapi. Kita akan menemui banyak kejutan di tiap flashback, membuat kita deg-degan sendiri. Walaupun gitu, kita tetap nyaman nontonnya. Lanjutkan membaca ‘Atonement’

Iklan

Blood Diamond

BD

Genres: Drama, Romance, Thriller and Crime/Gangster
Starring: Leonardo DiCaprio, Djimon Hounsou, Jennifer Connelly, Arnold Vosloo, Michael Sheen
Directed by: Edward Zwick
Produced by: Len Amato, Benjamin Waisbren, Kevin De La Noy

Apa jadinya kalo berlian yang ada di toko-toko, yang ditaksir sama ibu-ibu, adalah berlian hasil dari kerja paksa dan perang yang terjadi di Afrika. Oh, yeah hal itu memang terjadi. Paling enggak itulah yang diceritain do Blood Diamond, garapan Edward Zwick.

Cerita ini bermula pada saat Solomon Vandy (Djimon Hounsou) dan keluarganya diserang oleh pemberontak. Keluarganya selamat tapi ia tertangkap dan harus bekerja di pertambangan berlian. Pemberontak nggak kenal ampun, kalo sampai ketahuan nyuri berlian, langsung DOR dan hey, selamat datang di alam baka. 🙂

Nah si Solomon ini tiba-tiba nemu berlian yang cukup besar, dan dia berniat mencurinya dari tambang. Setelah melewati pemeriksaan kepala RUF, ia berhasil mengubur berliannya di dekat penambangan. Tapi sial dia ketahuan, dan ditodong senjata.

Ehh, belum sempat ditembak, sutradara malah masukin tentara-tentara pemerintah yang mengobrak-abrik penambangan itu dengan mendadak. Solomon pun nggak jadi ditembak dan berliannya tetap aman, dan dia ditangkap pemerintah dan dipenjara. Begitu juga dengan kepala pemberontak yang mengetahui pencuriannya itu.

Mari kita break ke tempat lain….

Leonardo Di Caprio berperan sebagai tokoh utama yang ternyata adalah penyelundup berlian, Danny Archer. Ia bekerja di bawah perintah Kolonel Coetzee (Arnold Voseoo). Tugas Danny adalah mencari berlian dan menyerahkannya pada “pengasuhnya” itu.

Danny
“Danny dari Rhodesia”

Tapi apa daya saat menyelundupkan berlian yang dimasukkan ke kulit kambing ternak, ia ketahuan petugas pemerintah dan masuk penjara yang sama….. Dengan Solomon.

Di penjara, Danny Archer mendengar bahwa Solomon berhasil menemukan berlian terbesar yang pernah ada, dan ia tertarik untuk mencari berlian itu. Pertama-tama Danny dan koneksinya berhasil menebus jaminan untuk membebaskan dirinya sendiri sekaligus Solomon. Ia berniat untuk bernegosiasi.

Namun Solomon otomatis nggak langsung setuju. Ia memberi syarat pada Danny untuk mencari keluarga Solomon yang hilang, baru setelah itu mengambil berliannya yang terkubur di areal penambangan.

Ohya, FYI, film ini bersetting di Siera Leone, negara di Afrika, yang sedang berperang lawan pemberontak RUF, yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur sebagai infanteri. Jadi pasukan mereka kebanyakan anak-anak yang pikirannya telah dicuci otak dan dicekoki hal-hal yang tidak manusiawi. Mereka jadi beriwa pembunuh dan nggak akan segan-segan menembakkan AK-47nya ke kepalamu.

Nah kasian banget si Solomon dan Danny yang lagi mencari keluarganya. Anak laki-laki Solomon, DIa Vandy (Kagiso Kuypers), diculik dan dijadikan tentara RUF.

Dan parahnya lagi, di tengah pencarian keluarga hilang itu, Danny ditempelin oleh wartawan cewek dari Amerika yang haus informasi akan penyelundupan. Ia membuntuti Danny dan berusaha untuk mendapatkan berita. Tentu aja Danny nggak segampang itu ngasi beritanya, tapi demi berlian, ia membocorkan operasinya sedikit demi sedikit.

Bowen
Wartawati Maddy Bowen

Well, aku yakin Danny Archer nggak 100% gila harta. Dia hanya muak berada di negeri konflik, dan ingin segera lepas dari kekuasaan Kolonel Coetzee, lalu segera kabur ke luar negeri. Tiketnya? Ya berlian yang ditemukan Solomon itu.

Sedangkan Solomon sendiri sangat ingin bertemu dengan keluarganya, karena ia merasa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ditambah lagi Wartawan cewek Maddy Bowen (Jennifer Connely) yang terobsesi dengan penyelundupan. Ia ingin mengungkap kasus yang telah membuat negeri itu sengsara. Ia ingin menyudahi perang, atau paling tidak, berbuat sesuatu tentangnya.

Jadi di balik adegan-adegannya yang keras diantara kekacauan, film ini memiliki sisi-sisi positif yang dapat kita ambil sebagai manusia. Misalnya saja walaupun Danny memiliki profesi jahat, ia ternyata juga mamiliki sedikit sifat yang manusiawi. Ia sebenarnya prihatin dengan perang, tapi tidak dapat melakukan apa-apa.

Maddy Bowen juga begitu. Sebelumnya, ia benci sekali dengan Danny yang bisaya cuma melakukan hal ilegal. Tapi setelah Maddy melihat sisi Danny yang rapuh, ia berbalik 180 derajat menjadi simpati.

Namun aku salut sama apa yang dilakukan oleh Danny. ia rela mengorbankan berliannya, tiketnya menuju kebebasan, dengan sesuatu yang lebih berharga. Saat ia tertembak dan tidak dapat meneruskan perjalannya, ia menyerahkan berliannya pada SOlomon untuk kebaikan yang lain. Pada akhirnya penyelundupan itu terungkap dan massa mengetahui semuanya.

RUN
Danny Archer dan Solomon Vandy

Orang harus tahu kapan harus berhenti, atau kapan harus terus bejalan. Jika nggak mampu, apa salahnya sih melihat orang lain sukses? Toh mereka layak mendapatkannya. Saya menyebutnya sikap seorang yang tahu diri 🙂

Harry Potter and the Order of Phoenix

hp5

Genres: Action/Adventure, Kids/Family, Romance, Science Fiction/Fantasy, Adaptation and Sequel
Starring: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Gary Oldman
Directed by: David Yates

Aslinya sudah lama nonton cuman baru nulis sekarang ^^;

Efek-efeknya tambah magic! David Yates benar-benar menyihir Harry Potter seri ke-5 ini menjadi film yang benar-benar baru. Lebih gelap, lebih tegang, lebih yahud!

Jujurnya, saya paling suka yang nomor lima ini. Lalu kemudian Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (III). Sedangkan tiga lainnya biasa-biasa saja (kecuali yang nomor satu, mungkin, karena saat itu cerita karangan JK Rowling sangat fenomenal).

Untuk ceritanya…. saya yakin kamu semua sudah tahu. Jika belum, silakan baca bukunya atau tonton aja filmnya. Ada beberapa hal yang ditambahkan oleh sutradara (kemunculan Nigel—William Melling), dan BANYAK sekali yang adegan novelnya dipersingkat karena durasi nggak cukup. Sayang.

Dementor di sini terlihat lebih menakutkan. Tanpa jubah (kelihatannya), jadi mulut dementor yang menjijikkan mengerikan bisa terlihat langsung.

Buat pemerannya: Dan Radcliffe seperti biasa. Cuman tampangnya lebih dewasa dan makin mirip Elijah Wood. Emma juga sama (halah…), masih overacting dan, ya ampun, makin cakep. Padahal di novelnya dia biasa aja. Rupert…. Ah nggak ada yang berubah!

Tapi ketiganya tetep cocok jadi pemeran Harry, Hermoine, Ron. Ginny (Bonnie Wright) juga pas, makin cakep. Yang nggak pas itu cuma satu: Cho Chang (Katie Leung). Temen-temen juga banyak yang bilang.

Ada pemeran baru! Evanna Lynch memerankan Loony Luna Lovegood. Haha, meyakinkan banget bok!

Klimaksnya dahsyat. Pertarungan tergila sepanjang sejarah perfilm-an Harry Potter.

…. (tidak sanggup berkata-kata)

Tonton ajaaaaaa!

Memoirs of a Geisha

Mog

Genre: Drama, Romance and Adaptasi
Distributor: Sony Pictures Releasing, DreamWorks SKG
Starring: Ziyi Zhang, Ken Watanabe, Michelle Yeoh, Koji Yakusho, Youki Kudoh
Directed by: Rob Marshall
Produced by: Patty Whitcher, Bobby Cohen, Roger

Film layar lebar ini diangkat dari novel Arthur Golden. Diramaikan oleh Ziyi Zhang sebagai Sayuri, Michelle Yeoh sebagai Mameha, dan Ken Watanabe sebagai Ken Iwamura aka the Chairman; plus dengan reka ulang tradisi kebudayaan Jepang di tahun 1930-an; film ini adalah salah satu film yang patut ditonton.

Memoirs of a Geisha mengupas tentang kehidupan seorang Geisha yang kontroversial. Selain harus pintar-pintar memikat pria, Geisha juga dituntut untuk menguasai beberaa seni tradisional Jepang, misalnya memetik Shamisen (gitar tradisional Jepang), menari kipas, bahkan seni menuang teh. Jadi, kehidupan Geisha bukan hanya sekedar kehidupan malam yang begituan. Perlu keterampilan khusus untuk benar-benar menjadi Geisha sejati.

Diceritakan, tokoh utama Sayuri sebenarnya tidak dilahirkan di kalangan Geisha. Ia dilahirkan dengan nama Chiyo. Chiyo kecil dan kakaknya, Satsu, dijual ke “distributor” Geisha oleh Ayah mereka untuk menyambung hidup. Chiyo diterima di Okiya Nitta, rumah Geisha. Namun Satsu diterima di distrik yang lain. Jadi, Chiyo hidup sebatang kara di sana.

Chiyo bukannya “kebetulan” saja diasuh oleh Okiya Nitta. Dia istimewa, karena memiliki sepasang mata bewarna biru transparan yang mengagumkan. Yah, bisa dibilang wajahnya memikat lah. Nah Di Okiya itu, Chiyo menjadi bulan-bulanan oleh Geisha Hatsumomo. Dia berwajah cantik, tapi hatinya buruk. Hatsumomo iri pada Chiyo karena kecantikannya, dan dia berniat menyingkirkan Chiyo.

Banyak hal yang dialami Chiyo: bersahabat dengan seorang anak bernama Labu alias Pumpkin; membuat rencana untuk mencari kakaknya; kabur lewat genteng; tertangkap; dan “Ibu” dari Okiya akhirnya memutuskan untuk menjadikannya budak untuk selamanya, karena dia anak yang sangat bandel. Perlu diketahui, perbuatan melarikan diri dari Okiya adalah perbuatan yang tidak dapat dimaafkan, dan kesempatan untuk menjadi Geisha akan hilang selamanya….

Eits! Masak langsung “The End”???

Nah, pada suatu hari Chiyo kecil yang menangis meratapi nasibnya di jembatan, bertemu dengan presiden Iwamura Elektrik bernama Iwamura Ken (Ken Watanabe). Para asistennya memanggil dengan sebutan Chairman atau Ketua. Ketua sangat baik, membelikan Chiyo es krim, dan memberikannya harapan. Pertemuan super singkat itu ternyata merupakan titik balik dari kehidupan Chiyo, karena dia jadi punya tujuan hidup. Tujuan hidupnya adalah: Menjadi Geisha untuk Bertemu Kembali dengan Ketua.
Jreng jreng jreng!!! Bagaimanakah perjuangan Chiyo meraih impiannya??? (Waduh kalau diceritakan satu-satu nggak bakal kelar…)

Komentar untuk film ini:
Kostum dan Make-up-nya keren. Jepang banget, Geisha banget. Apalagi waktu nari-nari gitu, fantastis. Tak cukup dengan baca novelnya kita langsung mengerti, tapi dengan menonton film ini kita akan menyadari betapa menakjubkannya seni Geisha itu.

Oh iya, film ini pake bahasa Inggris. Saya lebih suka pakai bahasa Jepang sebagai bahasa utama, kan ini settingnya di Jepang? Kayak film Letters From Iwo Jima yang disutradarai oleh Clint Eastwood. Meskipun buatan USA, tapi bahasa Jepang. Jadinya juga bagus, keren malah.

Nah gara-gara pake bahasa Inggris, jadinya rada nggak enjoy nonton. Gimana ya? Pemainnya rada “gag teteh” ngomongnya. Agak belepotan, atau kalau gitu intonasinya nggak pas. Jadinya waktu pertama kali nonton, saya merasa aneh, walaupun lama-lama juga terbiasa. Saya tetap berpendapat lebih baik pakai bahasa Jepang aja.

Aah, berhubung saya sudah pernah baca bukunya, sepertinya film ini tidak lebih dari sebuah simulasi dari novel itu. Well, banyak juga sih film yang diambil dari buku, misal Harry Potter. Tapi Memoirs of Geisha ini beda. Nonton film ini sama saja dengan baca bukunya, tapi adegannya disingkat-singkat. Tidak ada yang baru.

Pemain-pemainnya cukup mewakili tokoh-tokoh di novel. Sayuri yang “bermata seperti hujan”, matanya keren banget lo. Mameha yang kharismatik, Iwamura Ken yang baik hati, Hatsumomo yang jahat, Nobu yang tempramental dan sensitif. Haa, film yang menghidupkan sebuah novel.

Film ini nggak cocok buat anak kecil, tapi mungkin ada sebagian remaja yang tertarik. Adegan panas tidak terlalu mencolok, kalaupun ada ya sudah di-sensor. Banyak hal yang dapat diambil, terutama pengetahuan tentang budaya Jepang. Film ini juga ada tokoh protagonis dan antagonis, dimana kebaikan pasti menang, dan tokoh utama akhirnya hidup bahagia selamanya….

The Good Shepherd

Starring : Matt Damon, Angelina Jolie, Robert De Niro, Alec Baldwin, John Turturro

Directed by : Robert De Niro


Satu lagi koleksi film spionase terbaik sepanjang masa….the_good_shepherd

The Good Shepherd bisa dibilang menceritakan tentang perjalanan karir seorang agen CIA pada abad 19. Setting tahun berkisar antara 1930 hingga 1960-an. Memang jadul, sih. Di sini, Matt Damon berperan sebagai agen bernama Edward Wilson, yang dikenal sebagai seseorang yang tenang namun menghanyutkan. Edward yang merupakan lulusan Universitas Yale ini memulai karirnya sebagai mata-mata yang berkedok perusahaan perdagangan. Namanya sudah dikenal di berbagai pelosok badan keamanan, bahkan KGB punya sandi khusus untuk menyebut Edward dengan kode: Mother (alias Ibu).

Satu hal yang harus diperhatikan, alur yang digunakan sutradara Robert De Niro adalah alur maju-mundur. Jadi, jika ada keterangan tahun pada scene, tolong diperhatikan dan cobalah untuk merangkai kejadiannya secara runtut. Soalnya pengalaman waktu lihat film ini pertama kali, benar-benar tidak nyambung melihatnya. Apalagi nuansanya benar-benar datar, tidak beremosi. Hampir tidak ada klimaks yang dapat ditemukan. Otak kitalah yang mencerna konten dari The Good Shepherd, sudah dapat dipastikan bahwa pembuat film tidak sudi hanya menyuapi kita dengan hal-hal yang patut ataupun tidak patut kita pahami. Lihat dan rangkai, kau akan mengerti apa yang mereka maksudkan.

The Good Shepherd memperlihatkan berbagai macam ”kebusukan” yang dapat terjadi di agen intelegensi. Di sana, para agen dituntut untuk mengabdi sepenuh jiwa raga. Keluarga, kepercayaan, bahkan negara semua dipertaruhkan. Edward Wilson adalah salah satu contoh terbaik dari agen CIA yang mengalami hal tersebut.

Sebagai manusia yang berpengetahuan dan berbakat, Edward harus berhadapan dengan bermacam-macam orang dalam hidupnya. Atasan, kawan, lawan…. Dan dia merasa harus dapat membedakan mana yang dapat ia percaya, dan mana yang akan menusuknya dari belakang. Itulah pelajaran pertamanya mengenai spionase yang didapatnya. Dia selalu berkata bahwa tidak ada seorang pun yang dapat ia percaya. Hingga pada suatu saat keyakinan itu tergoyahkan oleh hati nuraninya.

Saat Edward masi kecil, ayahnya mati karena bunuh diri. Sebelum dia menembakkan pistolnya, dia berpesan pada Edward untuk tidak akan pernah membohongi seseorang. Karena jika kau berbohong, orang tidak akan mempercayaimu dan kau tidak akan lagi merasa aman bersama mereka. Kenyataan hidup yang harus dijalani Edward setelah dewasa, membuatnya melupakan wasiat tersebut.

Gimana enggak? Dia harus mengantisipasi mata-mata musuh yang menyamar, dia harus mengantisipasi segala sesuatu yang berbau konspirasi. Bagaimana dia dapat mempercayai seseorang? Keluarganya pun selalu mengkhawatirkan keadaannya yang selalu menerima telepon secara diam-diam, serius, dan super rahasia. Itulah yang membuat hubungan dengan istrinya (Angelina Jolie) memburuk, dan hubungan dengan putranya merenggang. Dia bahkan tidak mampu mempercayai kekasih putranya, dan membunuhnya sebelum sempat bertemu dengan putranya di hari pernikahan. Dia menghancurkan keluarganya sendiri, hanya semata-mata dia cinta buta pada pekerjaan untuk ”menyelamatkan nyawa Amerika”.

Film ini ditutup dengan pembacaan surat wasiat dari ayah Edward, yang belum pernah dibukan sebelumnya.

They are right what they say about me. I was weak. A coward. I compromised myself, my honor, my family, my country. I am ashamed of myself.

To my wife, I am sorry I have done this to you. To my son, I hope you grow up to be a courageous man, a good husband, a good father. I hope whatever you decide to do, you lead a good for life. I hope whatever your dreams will be come true.

Your loving husband and father.

Dan di saat itulah Edward Wilson merasa benar-benar telah mengecewakan ayahnya, dan dirinya sendiri….


Admin

Laman

Jadwal Tayang

April 2019
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Kategori

Blog Stats

  • 107.338 hits
Add to Technorati Favorites
Iklan