Archive for the 'Sequel' Category

Elizabeth – The Golden Age

Genres:     Art/Foreign, Drama, Biopic and Sequel
Starring:       Geoffrey Rush, Clive Owen, Cate Blanchett, Abbie Cornish, Jordi Molla
Directed by:     Shekhar Kapur

Yeah, film ini mengangkat tema sejarah kerajaan Inggris di jaman Ratu Elizabeth yang diperankan dengan apik oleh Cate Blanchett. Not bad.

Alurnya mudah diikuti, hanya saja perlu konsentrasi kalau ingin mengikuti dengan baik. Tokoh-tokohnya banyak dan penuh konspirasi politik. Tapi sejauh saya nonton, hal ini bukan masalah.

Ceritanya ringan, malah agak tipikal. Untuk alur tentang peperangan Inggris dan Spanyol itu lumayan. Tapi ada kisah cinta yang sudah -basi- biasa, yaitu perselingkuhan.

Yang saya suka dari Elizabeth: The Golden Age ini settingannya. Yah, seperti film sejarah umumnya sih. Ada istana supermegah, ada kostum superjadul, dll, dll. Lanjutkan membaca ‘Elizabeth – The Golden Age’

Iklan

Harry Potter and the Order of Phoenix

hp5

Genres: Action/Adventure, Kids/Family, Romance, Science Fiction/Fantasy, Adaptation and Sequel
Starring: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Gary Oldman
Directed by: David Yates

Aslinya sudah lama nonton cuman baru nulis sekarang ^^;

Efek-efeknya tambah magic! David Yates benar-benar menyihir Harry Potter seri ke-5 ini menjadi film yang benar-benar baru. Lebih gelap, lebih tegang, lebih yahud!

Jujurnya, saya paling suka yang nomor lima ini. Lalu kemudian Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (III). Sedangkan tiga lainnya biasa-biasa saja (kecuali yang nomor satu, mungkin, karena saat itu cerita karangan JK Rowling sangat fenomenal).

Untuk ceritanya…. saya yakin kamu semua sudah tahu. Jika belum, silakan baca bukunya atau tonton aja filmnya. Ada beberapa hal yang ditambahkan oleh sutradara (kemunculan Nigel—William Melling), dan BANYAK sekali yang adegan novelnya dipersingkat karena durasi nggak cukup. Sayang.

Dementor di sini terlihat lebih menakutkan. Tanpa jubah (kelihatannya), jadi mulut dementor yang menjijikkan mengerikan bisa terlihat langsung.

Buat pemerannya: Dan Radcliffe seperti biasa. Cuman tampangnya lebih dewasa dan makin mirip Elijah Wood. Emma juga sama (halah…), masih overacting dan, ya ampun, makin cakep. Padahal di novelnya dia biasa aja. Rupert…. Ah nggak ada yang berubah!

Tapi ketiganya tetep cocok jadi pemeran Harry, Hermoine, Ron. Ginny (Bonnie Wright) juga pas, makin cakep. Yang nggak pas itu cuma satu: Cho Chang (Katie Leung). Temen-temen juga banyak yang bilang.

Ada pemeran baru! Evanna Lynch memerankan Loony Luna Lovegood. Haha, meyakinkan banget bok!

Klimaksnya dahsyat. Pertarungan tergila sepanjang sejarah perfilm-an Harry Potter.

…. (tidak sanggup berkata-kata)

Tonton ajaaaaaa!

Mr. Bean’s Holiday

mbh

Genres: Comedy, Adaptation and Sequel
Starring: Rowan Atkinson, Willem Dafoe, Emma De Caunes, Jean Rochefort, Karel Roden
Directed by: Steve Bendelack

Benar-benar, dijamin 100% sakit perit dan pipi pegal-pegal (kebanyakan ketawa).

Untuk jalannya cerita saya tidak terlalu banyak berkomentar, soalnya ini film komedi yang (sudah sepantasnya) berubah-ubah setting dan alurnya lumayan kacau. ^^; Yang lebih salut lagi adalah watak Mr. Bean kali ini, kelucuannya terlihat lebih natural.

Bermula dari keberuntungan (?) menang undian liburan ke Perancis, Mr. Bean diceritakan bertandang ke sana dengan berbekal: paspor, tiket, uang, koper, dll, dll, dan satu hal yang penting yaitu handycam. Meskipun cuma dibuat merekam hal-hal yang sepele dan nggak penting, ternyata benda ini sangat membantu dalam petualangan Mr. Bean di negeri sebrang itu.

Lalu, saat Mr. Bean akan naik kereta ke pantai Cannes, dia membuat seorang ayah berpisah dengan anaknya. Ceritanya gini: Mr Bean ingin mendokumentasikan kenaikannya ke kereta di handycam, dan did menyuruh seorang laki-laki untuk merekamnya. Laki-laki ini (diketahui kemudian) bernama Emil, seorang penting lah. Nah, Mr. Bean perlu beberapa shots untuk benar-benar puas dengan hasil gambarnya, dan pada saat dia naik kereta, pintunya tertutup, meninggalkan Emil di luar kereta. Padahal anaknya sudah menunggu.

Akhirnya karena tak punya pilihan, Mr Bean membantu anak itu untuk kembali ke ayahnya, dan menuju ke Pantai Cannes. Haha, berpetualang deh.

Kesialan Mr Bean: koper ketinggalan di kereta, paspor dan dompet ketinggalan di atas telepon umum, seekor ayam membuatnya berlari hingga padang antah berantah, terkunci di gubuk super sempit, terjebak di tengah syuting iklan, menyamar dan: dijadikan buronan nomor 1 di seluruh Perancis!

Oiya, gara-gara jadi buronan itu Mr. Bean harus nyamar jadi ibu-ibu tua bertampang bodoh. Gokil banget mukanya! XDXDXD

Oh, satu lagi! Adegan yang saya paling suka adalah pada saat Mr. Bean dan Stephan (anak Emil) ngamen di jalanan. Dengan berbekal Stereo curian, Mr. Bean harus pandai-pandai menari menyesuaikan gerak dengan musik yang random. Akhirnya sebagai penutup, adalah lagu seriosa yang berhasil diapresiasikan dengan sangat sangat baik oleh Mr. Bean! (Baca: sangat sangat konyol!)

Film ini cocok ditonton rame-rame, soalnya bener-bener lucu. Saya sendiri menonton dengan keluarga di rumah, dan semuanya ketawa ngakak nggak berhenti-berhenti.

Ocean’s Thirteen

o13

Genres: Action/Adventure, Thriller, Crime/Gangster and Sequel
Starring: George Clooney, Ellen Barkin, Matt Damon, Brad Pitt, Andy Garcia, Al Pacino
Directed by: Steven Soderbergh

Masih ingat aksi geng Ocean merampok bank dengan cara yang lihai di Ocean’s Eleven? Atau permainan kucing-kucingan dengan Benedict, Toulour, dan Detektif Lahiri di Ocean’s Twelve? Yap, ini adalah seri ketiga dari trilogi geng kriminal Danny Ocean (Clooney), Rusty Ryan (Pitt), dan Linus Caldwell (Damon).

Film ini konon dimaksudkan untuk mendongkrak pemasukan setelah seri keduanya dianggap “kurang sukses” dibandingkan seri pertamanya. Saya nggak ngerti kenapa, padahal menurut saya Ocean’s Twelve adalah seri Ocean yang paling seru. Di sana banyak kejutan dan kita tidak bisa menebak-nebak apa yang bakal terjadi. Tapi yah, Ocean’s Eleven memang menang karena teknik kriminal yang dipakai lebih menegangkan.

Oke! Mari bicara tentang Ocean’s Thirteen.

Andy Garcia sebagai Terry Bennedict masih berperan dalam film ini. Ditambah lagi ada Al Pacino yang memerankan Willy Bank—orang yang berduit, tercemin dalam namanya—yang merupakan target perampokan kelompok Ocean. Toulour, pencuri handal dari Perancis juga masih saja mengekor gerak-gerik Ocean dan kawan-kawan. Sayang sekali Julia Roberts dan Catherine Zeta-Jones nggak ikutan nimbrung, padahal mereka memegang peranan penting di seri ke-2. Dan, tentu saja, geng Ocean masih eksis di sini.

Dimulai dari perjanjian bisnis antara Willy Bank dan Reuben, salah satu anggota kelompok Ocean. Willy terkenal licik dalam berbisnis, dan dia melakukannya pada Reuben. Setelah kontrak ditandatangani, yang ada malah kerugian total di pihak Reuben. Tentu saja Reuben tidak terima tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Bisnisnya kandas, dan dia kena stroke.

Mengutip pernyataan Willy Bank sebelum perampokan: “Well, I don’t lose. People who bet I’d be to lose, lose. And they lose big. You commit me, you better know, I move quick. And when i do, I slice, like a god damn hammer.”

Di sinilah latar belakang kenapa Danny Ocean ingin merampok Willy. Mengetahui teman berharganya menderita gara-gara ditipu, dia mengancam akan membalas Willy dengan hal setimpal. Danny ingin membuat kasino yang dikelola Willy rugi, atau bangkrut, atau pailit, terserah pokoknya demi memperjuangkan hak Reuben.

Tidak mudah lho, membobol kasino milik Willy. Mungkin kasino Willy adalah kasino paling aman di Las Vegas. Dilengkapi dengan pendeteksi panas, pendeteksi kebohongan, pendeteksi macam-macam. Apalagi sistem keamanannya tergolong yang paling ampuh. Tidak bisak disusupi, di-hack, belum ada di pasaran.

Film kali ini rumit, benar. Perlu ketelitian dalam perencanaan untuk misi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Misalnya: bagaimana cara mengelabuhi sistem keamanan? Bagaimana agar Willy Bank merugi, padahal selama ini kasino adalah pihak yang selalu menang? Bagaimana cara agar dapat keluar dari sana setelah misi dijalankan? Perampok amatir pasti akan menyerah duluan.

Ada banyak hal di film ini: gempa bumi ciptaan kelompok Ocean, campur tangan FBI oleh agen Caldwell (tebak siapa? yap, dia adalah ayah Linus Caldwell), pemogokan kerja di pabrik dadu di Meksiko, bla bla bla. Dan yang paling lucu adalah adegan pada saat Terry Bennedict muncul di Oprah Show karena telah menyumbang UD$72.000.000. WOW!

Kalau boleh saya menyimpulkan: Ocean’s Eleven menang dari segi teknik perampokan profesional; Ocean’s Twelve menang dari segi kejutan-kejutan; sedangkan Ocean’s Thirteen menang dari segi kerumitan perencanaan. Benar-benar sangat direkomendasikan untuk ditonton.

The Bourne Ultimatum

Starring : Matt Damon, Julie Stiles, Joan Allen, David Strathairn, Paddy Considine

Directed by : Paul Greengrass

Kyaaaaa, akhirnya bisa lihat nih movie!!!

Bourne Ultimatum merupakan seri terakhir dari trilogy The Bourne. Setelah film pertama dan kedua (The Bourne: Identity & Supremacy), movie yang dibintangi Matt Damon ini tentunya makin bertambah seru. Cinematography-nya perfect. Setting-nya juga tetap sama: berubah-ubah. Dari Moskow, Turin, Langley, London, Paris, Madrid, Tangier, dan…. New York tentunya. Dan mungkin inlah yang menjadi daya tarik The Bourne trilogy.

Jason Bourne (Matt Damon) masih berkeliaran dan dikejar-kejar oleh CIA. Di bawah komando baru, agensi intel besar itu bersikukuh bahwa Jason Bourne adalah orang berbahaya dan patut dimusjason_bournenahkan. Maka, mereka menugaskan agen-agen terbaik mereka untuk menangkap Bourne dan menghabisinya.

Tapi, (Bourne gitu loh!) tentu saja target mereka nggak akan tinggal diam. Demi menyingkap masa lalunya, dia mengambil berbagai kesempatan dalam kesempitan. Di awal cerita akan diperlihatkan seorang wartawan yang menulis tentangnya, dan sebuah misi rahasia intelligensi berkode ”Blackbriar”. Karena info ini, Bourne menemuinya dan hal itu membuat mereka dalam bahaya, karena CIA nggak akan membiarkan rahasianya terbongkar. Perburuan yang berakhir dengan tewasnya wartawan tersebut pun menghasilkan satu informasi baru yang mengantar Bourne pada Daniels, orang yang terlibat dalam Blackbriar.

Dan sebagainya… dan sebagainya…. (Lihat sendiri, kaliii)

Film ini dominan dengan adegan pelarian, kejar-kejaran, petak-umpet, adu otak dan fisik. Super tegang liatnya. Untuk adegan ”dewasa”…. kayaknya nggak terlalu. Paling cuma nol koma sekian persen. Tapi, jangan kira di film ini nggak ada unsur ”lophe-lophe”an. Waktu Jason Bourne dan Nicky Parsons jadi pelarian, suasananya jadi ”aneh” waktu mereka bicara berdua, misalnya. Sayang banget mereka nggak jadian. Tapi nggak masalah, toh bukan itu inti ceritanya. Lagian, pasti si sutradaranya sudah menyiasati supaya film terakhir ini tetap mengandung efek surprise dan nggak gampang ditebak.

Jadi, kita nggak bakal tahu endingnya sebelum liat sampai akhir. Berpikir tentang itu pun nggak akan sempat. Otak kita udah dihipnotis oleh keseriusan suasana yang sarat akan bahaya. Kita akan dituntun menyelami dunia Jason Bourne (atau David Webb, itu nama aslinya dalam cerita ini) tanpa mampu menerka-nerka apa yang akan terjadi. Tugas kita hanya duduk diam dan memelototi layar TV sampai di layar muncul tulisan ”THE END”. Dan di saat itu terjadi, kita baru sadar bahwa pantat kita pegel duduk terus selama 2 jam.

Battle Royale II: Requiem

br_requiemFilm ini adalah sekuel dari Battle Royale I. Film dari negeri Sakura ini dibintangi oleh Fujiwara Tatsuya, Maeda Ai, Oshinari Shuugo, dan Takeuchi Riki. Oiya, bagi yang belum tahu Battle Royale itu apa, begini penjelasan singkatnya…. (Sekalian flashback ke Battle Royale I, ya. Hihihi ^^)

Diceritakan generasi muda masa depan mempunyai hubungan tidak harmonis dengan generasi tuanya, atau yang lebih kerap disebut sebagai “orang dewasa”. Kelakuan anak muda memburuk, kesadaran untuk belajar hilang, berganti menjadi sikap seenaknya sendiri yang memaksa orang dewasa turun tangan. Pak Kitano (Beat Takeshi), salah satu orang dewasa yang ingin menyadarkan anak muda kemudian berunding dengan tokoh-tokoh penting, dan kemudian menghasilkan suatu undang-undang baru bagi masyarakat Jepang yang disebut UU Battle Royale.

Apa sih, isinya? Battle Royale mengharuskan pengisolasian beberapa anak muda di suatu pulau, dan mereka harus membunuh satu sama lain untuk mencari pemenangnya. Si pemenang, ya dialah yang berhasil bertahan hidup sendirian. Ngeri kan? Nah suatu saat giliran kelas Nanahara Shuuya (Fujiwara Tatsuya) yang harus memainkan Battle Royale. Dengan bersenjatakan bermacam-macam alat, mereka dipaksa membunuh teman-temannya sendiri. Biar lebih yahud, mereka dibekali kalung yang dapat meledak jika mereka memasuki area terlarang.

Aaah, akhirnya cerita ini berakhir dengan kematian Pak Kitano karena dibunuh oleh Shuuya dan Noriko, teman ceweknya. Lalu nasib mereka berdua nggak jelas gitu….

Oops, kembali ke Battle Royale II. Kali ini peraturannya lebih menakutkan. Yang kebagian adalah kelasnya Kitano Shiori (Maeda Ai). Sebagai catatan, Kitano Shiori adalah anak perempuan dari Pak Kitano yang dibunuh oleh Shuuya tiga tahun lalu. Kemudian, untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya, dia mendaftarkan kelasnya sebagai peserta Battle Royale II. (Iiih, egois yaa?)

Peraturannya sedikit berbeda. Mereka bukannya disuruh untuk membunuh satu sama lain, tapi diperintahkan untuk mencari dan membunuh Nanahara Shuuya yang sekarang sudah menjadi teroris yang “menyatakan perang terhadap semua orang dewasa”. Kali ini mereka diberi senjata lengkap. Dan, bukan Battle Royale namanya kalo nggak ada…. Kalung! Mereka diberi kalung dan mereka berpasangan dengan orang yang memiliki nomor kalung yang sama. Dan jika pemilik salah satu kalung mati, yang lain ikut mati soalnya kalungnya meledak.

Battle Royale II ini lebih menegangkan dan lebih…. nggak jelas. Maksudku, masak ceritanya sampek menjalar di Iraq sono sih? Oooh, ternyata Shuuya belajar jadi teroris tuh dari Iraq? Terus pada akhir ceritanya, setting berubah di negara Timur Tengah lainnya. Gak tau tuh di mana….

Film ini juga penuh dengan adegan yang seolah-olah dramatis, padahal enggak blas. Apa ya? Mendramatisir? Apa itu ciri film Jepang, ya? Terus paling enggak selalu ada tokoh yang ekstrem. Misalnya di Battle Royale II ini ada Aoi Takuma (Oshinari Shuugo) yang terlihat menonjol karena dia paling peduli dan berisik. (Benar, berisik. Seperti tokoh-tokoh dalam komik) Ahh, tapi boleh lah kan dia tokoh utama? Lalu ada Kitano Shiori yang menonjol karena terkesan misterius, dingin, dan tegar.

Tapi, film ini belum kehilangan nuansa sadis seperti dalam Battle Royale I (BR I aja ya gampang). Bedanya kalo di BR I, tingkat kesadisan lebih bervariasi karena melibatkan berbagai macam senjata. Ada yang pakai shotgun, crossbow, pistol, kapak, celurit, dan lain-lain. Bahkan ada yang cuma dibekali teropong (!) dan…. tutup panci (!!). Ada yang mati karena bunuh diri juga, lhoo. Nah di BR II, paling-paling sadisnya karena tembak-menembak pakai AK-47, atau kena granat sampai hancur tak berbentuk. Yang hampir mirip tuh, adegan saat kalung meledak. Tapi menurutku efek yang ditimbulkan lebih sadis kalung BR II, ya? Soalnya darahnya lebih bercipratan dan lebih ngeri aja ngeliatnya (bayangkan kamu make kalung gitu, terus tiba-tiba meledak tepat di depan lehermu sampai darahmu muncrat ke mana-mana).

Kalo mau liat dari Battle Royale I, boleh aja malah dianjurkan banget. Biar kita bisa tahu asal-usul dari tokoh-tokoh di BR II. Yang jelas, jangan sampai UU ini diterapkan di Indonesia. Yang bener aja. Ngeliatnya aja tegang dan ngeri, gimana mainnya?

Death Note 2: The Last Name

Death Note the Last Name

Bagi penggemar manga, judul di atas pasti nggak asing lagi. Yupe, Death Note adalah salah satu karya Takeshi Obata dan sudah tamat sampai volume 12 (Tapi di Indo baru terbit). Manga ini menceritakan tentang seorang Yagami Raito (Versi kerennya: Light) yang mempunyai buku catatan mematikan yang disebut Death Note (Jepang: Desu Noto). Dengan Death Note yang ia punya, ia bisa membunuh siapapun hanya dengan menulis nama orang ke buku itu, dan beberapa detik kemudian orang itu akan mati (Serangan jantung, lah. Tabrakan, lah. Terserah). Selain itu Raito juga bisa berkomunikasi dengan Shinigami yang memiliki Death Note tersebut.

Dari manga yang fenomenal ini, dibuat adaptasi film layar lebar versi manusia (Jepang: Dorama) yang dibagi menjadi dua seri. Nah, Death Note: The Last Name ini merupakan seri terakhir dari dua filmnya. Setelah beberapa lama menunggu, aku jadi nonton nih movie (hahaha, akhirnya….). Dan aku nggak sabar memberi komentar:

Pertama, yang paling kelihatan itu sedikin penggubahan script dari Death Note versi manga. Yah, okelah. Kira the 3rd-nya diperanin cewek. Tapi mana Near dan Mello? Terus mana si Mikami Teru? Oooh, padahal udah nggak sabar liat pemerannya….

Terus kenapa si L nggak mati waktu Remu nulis di Death Note-nya? Maksudku, pas itu aku udah yakin kalo dia mati, ehh ternyata muncul lagi di akhir-akhir. Jadi dia yang menggantikan peran Near, ya… Boleh, boleh… Terus apa maksudnya pas terakhir dia ngomong sama ayahnya Raito? ”Sayonara, Yagami-san. Arigato Gozaimasu,” terus coklatnya jatuh dan dia nggak bergerak lagi. Apa dia mati? Kenapa matinya? Nggak jelas….

Tapi…. dibalik improvisasi itu semua, adaptasi film ini tetep superbagus kok. (Terlepas dari pemeran Raitonya yang kurang memuaskan, yaa) Tetep membawa nuansa dark-nya Death Note versi manga. Apalagi pemerannya L itu meyakinkan banget. Gokil amat si tuh orang! Aku suka banget adegan pas dia make topeng buat nyembunyiin identitasnya (LOL). Terus selain itu tentang kegemarannya selain memecahkan kasus: MAKAN. Wakakakaka, nggak kebayang enaknya jadi pemeran L. Soalnya di mana ada L, di sana ada makanan! Waah, pasti abis syuting beratnya naik lima belas kilo….

Terus…. apa yaa? Baru sekali tadi nonton, sih. Lagian aku liat yang nggak ada subtittle-nya. Jadi mengandalkan ingatan (versi manga Death Note) buat menerjemahkan apa yang terjadi. Oh, iya. Ending soundtrack-nya keren, bok! Benar-benar berjiwa Death Note (?).

Nah, bagi yang belum nonton, cepetan nonton! Meskipun udah namatin manganya, tapi nggak lengkap kalo belum liat doramanya. Dan bagi temen-temen yang belum pernah tahu apa itu Death Note, tonton aja nggak papa. Nyambung kok. (Tapi liatnya dari seri pertama, kekeke). Lagian nonton film ini bisa membantu kita buat mengerti garis besar cerita Death Note versi manga, yang baru-baru aja diterbitkan di Indonesia. Waaaaa, nggak sabaaaar!


Admin

Laman

Jadwal Tayang

Juli 2019
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Kategori

Blog Stats

  • 108.291 hits
Add to Technorati Favorites
Iklan