Archive for the 'Thriller' Category

Vantage Point

Genre : Drama and Thriller
Starring: Dennis Quaid, Matthew Fox, Forest Whitaker, Sigourney Weaver, William Hurt, Edgar Ramirez, Zoe Saldana
Director: Pete Travis

Di film yang mengisahkan tentang percobaan pembunuhan presiden Amerika ini, kita akan diajak untuk melihat sudut pandang peristiwa melalui beberapa tokoh yang berbeda.

Tokoh 1: Operator Berita GNN, Rex Brooks (Sigourney Weaver)
Cewek berumur ini berperan dalam membuka cerita dan menjelaskan secara singkat tentang apa yang akan dipaparkan dalam film ini. Ia meliput konferensi di Spanyol yang dihadiri presiden AS. Sayangnya, presiden ditembak dan podium diledakkan dengan bom.

Tokoh 2: Agen Secret Servive Thomas Barnes (Dennis Quaid) danKent Taylor (Matthew Fox)
Mereka adalah pengawal pribadi presiden yang bertugas mengamankan keadaan. Mereka ada di dekat presiden saat ditembak, dan mereka berhasil selamat dari bom. Baernes dan Kent lalu lalu mengejar pelaku teror itu secara terpisah.

Tokoh 3: Polisi Spanyol Enrique (Eduardo Noriega)
Polisi ini digambarkan berseteru dengan pacarnya, Veronica, sebelum menuju konferensi. Ia lalu pergi ke baris depan dan melihat presiden ditembak. Lalu ia berlari ke panggung untuk menyelamatkan walikota Spanyol, sayangnya ia dirobohkan sama tokoh nomor dua: Barnes. Ia lalu melihat dengan sekilas pacarnya melemparkan tas ke bawah podium, dan bom pun meledak dari tas itu. Lanjutkan membaca ‘Vantage Point’

Iklan

I Am Legend

I Am Legend

Genre : Action, Science Fiction, Thriller, Adaptation
Starring : Will Smith, Alice Braga, Dash Mihok, Salli Richardson-Whitfield, Charlie Tahan, Willow Smith, April Grace
Director : Francis Lawrence

Seriously, nonton film ini bakalan bikin adrenalin kamu meledak-ledak.

Gimana enggak? Will Smith dengan sangat meyakinkan telah menujukkan kita betapa sulitnya hidup sendirian di dunia ini. Well, teknisnya dia enggak benar-benar sendirian sih, dia punya anjing namanya Sam.

Will berperan sebagai Robert Neville, yang kelihatannya jadi satu-satunya orang yang selamat dari wabah virus Krippin yang menghancurkan umat manusia. Setting terletak di tahun 2012 [kalo nggak salah].

Virus Krippin ini mengubah manusia menjadi monster kanibal—atau rabies kali yak?—yang jadi agresif di malam hari. Mereka alergi ultraviolet soalnya.

Robert dan anjingnya harus pintar-pintar bertahan hidup. Cara-cara yang mereka gunakan mungkin terdengar gila atau abnormal, tapi bagaimanapun saya akan coba daftarkan hal-hal yang saya ingat: Lanjutkan membaca ‘I Am Legend’

American Gangster

American Gangster - Lucas

Genres: Drama, Thriller, Crime/Gangster and Biopic
Starring: Denzel Washington, Russell Crowe, Josh Brolin, Common , Ted Levine
Directed by: Ridley Scott

Film ini diawali dengan adegan seorang mafia kulit hitam sedang menyiksa korban di sudut jalan yang gelam di malam hari. Korban terikat erat dan memohon-mohon untuk diampuni. Lalu, mafia tersebut malah menyulut tubuh korban dengan rokoknya hingga terbakar, diiringi dengan erangan-erangan mengerikan. Hiyyyyy!

Bintangnya memang bukan bintang biasa: Denzel Washington berperan sebagai Frank Lucas, mafia yang membakar orang hidup-hidup di awal scene; lalu ada Russel Crowe yang berperan sebagai Richie Roberts, sang detektif jujur yang suka wanita. Keduanya adalah tokoh sentral film yang mengangkat tema seperti The Godfather ini.

Setting mengambil daerah yang sarat kekerasan di AS, yang kelihatannya didominasi oleh orang kulit hitam. Di sini, Frank Lucas (Denzel Washington) berperan sebagai bos penyelundup narkoba bermerek “Blue Magic”. Ia mengekspornya dari Vietnam, lalu dijual di pasaran dan laku keras di kalangan orang jalanan.

Sementara itu pihak kepolisian sendiri kesulitan melacak organisasi penyelundup ini, karena banyak sekali polisi yang bisa disuap. Namun ada seorang polisi (sekaligus pengacara) bernama Richie Roberts (Russel Crowe) yang mau memegang teguh prinsipnya tentang kejujuran, dan ia ditugaskan secara khusus untuk membasmi komplotan Blue Magic ini.
Lanjutkan membaca ‘American Gangster’

Blood Diamond

BD

Genres: Drama, Romance, Thriller and Crime/Gangster
Starring: Leonardo DiCaprio, Djimon Hounsou, Jennifer Connelly, Arnold Vosloo, Michael Sheen
Directed by: Edward Zwick
Produced by: Len Amato, Benjamin Waisbren, Kevin De La Noy

Apa jadinya kalo berlian yang ada di toko-toko, yang ditaksir sama ibu-ibu, adalah berlian hasil dari kerja paksa dan perang yang terjadi di Afrika. Oh, yeah hal itu memang terjadi. Paling enggak itulah yang diceritain do Blood Diamond, garapan Edward Zwick.

Cerita ini bermula pada saat Solomon Vandy (Djimon Hounsou) dan keluarganya diserang oleh pemberontak. Keluarganya selamat tapi ia tertangkap dan harus bekerja di pertambangan berlian. Pemberontak nggak kenal ampun, kalo sampai ketahuan nyuri berlian, langsung DOR dan hey, selamat datang di alam baka. 🙂

Nah si Solomon ini tiba-tiba nemu berlian yang cukup besar, dan dia berniat mencurinya dari tambang. Setelah melewati pemeriksaan kepala RUF, ia berhasil mengubur berliannya di dekat penambangan. Tapi sial dia ketahuan, dan ditodong senjata.

Ehh, belum sempat ditembak, sutradara malah masukin tentara-tentara pemerintah yang mengobrak-abrik penambangan itu dengan mendadak. Solomon pun nggak jadi ditembak dan berliannya tetap aman, dan dia ditangkap pemerintah dan dipenjara. Begitu juga dengan kepala pemberontak yang mengetahui pencuriannya itu.

Mari kita break ke tempat lain….

Leonardo Di Caprio berperan sebagai tokoh utama yang ternyata adalah penyelundup berlian, Danny Archer. Ia bekerja di bawah perintah Kolonel Coetzee (Arnold Voseoo). Tugas Danny adalah mencari berlian dan menyerahkannya pada “pengasuhnya” itu.

Danny
“Danny dari Rhodesia”

Tapi apa daya saat menyelundupkan berlian yang dimasukkan ke kulit kambing ternak, ia ketahuan petugas pemerintah dan masuk penjara yang sama….. Dengan Solomon.

Di penjara, Danny Archer mendengar bahwa Solomon berhasil menemukan berlian terbesar yang pernah ada, dan ia tertarik untuk mencari berlian itu. Pertama-tama Danny dan koneksinya berhasil menebus jaminan untuk membebaskan dirinya sendiri sekaligus Solomon. Ia berniat untuk bernegosiasi.

Namun Solomon otomatis nggak langsung setuju. Ia memberi syarat pada Danny untuk mencari keluarga Solomon yang hilang, baru setelah itu mengambil berliannya yang terkubur di areal penambangan.

Ohya, FYI, film ini bersetting di Siera Leone, negara di Afrika, yang sedang berperang lawan pemberontak RUF, yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur sebagai infanteri. Jadi pasukan mereka kebanyakan anak-anak yang pikirannya telah dicuci otak dan dicekoki hal-hal yang tidak manusiawi. Mereka jadi beriwa pembunuh dan nggak akan segan-segan menembakkan AK-47nya ke kepalamu.

Nah kasian banget si Solomon dan Danny yang lagi mencari keluarganya. Anak laki-laki Solomon, DIa Vandy (Kagiso Kuypers), diculik dan dijadikan tentara RUF.

Dan parahnya lagi, di tengah pencarian keluarga hilang itu, Danny ditempelin oleh wartawan cewek dari Amerika yang haus informasi akan penyelundupan. Ia membuntuti Danny dan berusaha untuk mendapatkan berita. Tentu aja Danny nggak segampang itu ngasi beritanya, tapi demi berlian, ia membocorkan operasinya sedikit demi sedikit.

Bowen
Wartawati Maddy Bowen

Well, aku yakin Danny Archer nggak 100% gila harta. Dia hanya muak berada di negeri konflik, dan ingin segera lepas dari kekuasaan Kolonel Coetzee, lalu segera kabur ke luar negeri. Tiketnya? Ya berlian yang ditemukan Solomon itu.

Sedangkan Solomon sendiri sangat ingin bertemu dengan keluarganya, karena ia merasa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ditambah lagi Wartawan cewek Maddy Bowen (Jennifer Connely) yang terobsesi dengan penyelundupan. Ia ingin mengungkap kasus yang telah membuat negeri itu sengsara. Ia ingin menyudahi perang, atau paling tidak, berbuat sesuatu tentangnya.

Jadi di balik adegan-adegannya yang keras diantara kekacauan, film ini memiliki sisi-sisi positif yang dapat kita ambil sebagai manusia. Misalnya saja walaupun Danny memiliki profesi jahat, ia ternyata juga mamiliki sedikit sifat yang manusiawi. Ia sebenarnya prihatin dengan perang, tapi tidak dapat melakukan apa-apa.

Maddy Bowen juga begitu. Sebelumnya, ia benci sekali dengan Danny yang bisaya cuma melakukan hal ilegal. Tapi setelah Maddy melihat sisi Danny yang rapuh, ia berbalik 180 derajat menjadi simpati.

Namun aku salut sama apa yang dilakukan oleh Danny. ia rela mengorbankan berliannya, tiketnya menuju kebebasan, dengan sesuatu yang lebih berharga. Saat ia tertembak dan tidak dapat meneruskan perjalannya, ia menyerahkan berliannya pada SOlomon untuk kebaikan yang lain. Pada akhirnya penyelundupan itu terungkap dan massa mengetahui semuanya.

RUN
Danny Archer dan Solomon Vandy

Orang harus tahu kapan harus berhenti, atau kapan harus terus bejalan. Jika nggak mampu, apa salahnya sih melihat orang lain sukses? Toh mereka layak mendapatkannya. Saya menyebutnya sikap seorang yang tahu diri 🙂

Pan’s Labyrinth

PL

Genres: Art/Foreign, Science Fiction/Fantasy and Thriller
Starring: Maribel Verdu, Sergi Lopez, Ariadna Gil, Alex Angulo, Doug Jones
Directed by: Guillermo del Toro
Produced by: Javier Mateos Morillo, Luis Maria Reyes, Belen Atienza

WARNING: ANAK KECIL JANGAN BIARKAN NONTON SENDIRIAN

Sebab kalau kamu mengira bahwa ini adalah cerita dongeng biasa….. Kamu nggak salah, tapi itu juga nggak 100% benar. Kejeniusan Guillermo Del Toro ditumpahkan dalam pemolesan film yang nyaris sempurna. Kisah-kisahnya terjalin dengan rapi, meski dapat menimbulkan ambiguitas atau tafsiran yang bervariasi bagi peminat yang berbeda pula.

Mungkin ini karena ada dua alur cerita yang ada di Pan’s Labyrinth. Yang pertama adalah cerita sarat fantasi, dan yang kedua adalah kehidupan nyata yang kejam. Dan menariknya, dua-duanya saling berkesinambungan.

Bagian Dongeng:
Dulu kala ada seorang Putri Bawah Tanah yangs angat ingin pergi ke dunia manusia. Setelah kabur dari istana, ia akhirnya melihat cayaha matahari yang pertama. Sialnya, ia malah buta dan mati karena lingkungan dunia manusia yang liar.

Ayahnya, si Raja, percaya bahwa suatu saat Putri akan kembali. Makanya ia perintahkan seluruh pintu agar terbuka dan menunggu kedatangan Putri, entah kapan. 100 tahun, 200 tahun…. Ia akan menunggu.

Bagian Non-dongeng:
Settingan tahun 1944 di Spanyol, di tanah pemberontak. Ofelia (Ivana Baquero) adalah seorang gadis yatim yang mempunyai ayah baru bernama Kapten Vidal (Sergi López). Ibunya hamil dan mereka pindah ke markas Ayahnya. Jelas sekali bahwa ayahnya hanya tertarik pada calon putranya yang sebentar lagi akan terlahir.

Bagian sebelumnya yang menceritakan bahwa ada Putri bawah tanah…. Itulah Ofelia yang “kemungkinan besar” adalah reinkarnasi sang Putri.

Yah, agak susah memang, menentukan apakah dongeng ini adalah kenyataan atau benar-benar cuma khayalan Ofelia. Dia dikenal maniak buku, terutama buku fantasi. Dia bisa saja membayangkan yang macam-macam mengenai Putri yang hilang itu, dan tanpa sadar menciptakan dunianya sendiri. Dunia yang sebenarnya tidak eksis.

Lagipula di dunia nyata dia tidak cocok dengan ayah tirinya, dan ibunya berangsur-angsur berubah karena kehamilan yang tua. Di dunia yang asing itu, Ofelia mencari “pelarian” ke seorang pelayan bernama Marcedes (Maribel Verdú), yang ternyata adalah kakak dari salah satu pemberontak. Ofelia yang mengetahui hal ini memutuskan diam saja dan tetap menapaki dunia khayalnya.

Suatu hari ia bertemu peri (jelek) yang menuntunnya ke sebuah labirin. Di sana ia untuk pertama kalinya melihat sosok Pan (Doug Jones), seorang pengawal Kerajaan Bawah Tanah yang menanti kehadiran Putri. Ofelia boleh kembali ke istana SETELAH memenuhi 3 tugas yang diberikan. Tidak semuanya mampu dilalui dengan mudah.

3 tugas itu…. Jangan kira tugasnya segampang Turnamen Triwizard di Harry Potter. Setidaknya tugas-tugas di Triwizard lebih manusiawi saripada tugas-tugas yang diberikan pada Ofelia. Dia harus: 1) mengambil/ merebut sebuah kunci dari perut kodok raksasa yang, ya ampun, jijik banget. 2) mencari belati aneh di markas Pale Man (lagi-lagi Doug Jones) yang ngeliatnya aja bikin mual. 3) tugas paling tidak manusiawi: mengorbankan adiknya sendiri.

Paleman
The Pale Man

Siapa coba, yang tahan dengan misi-misi macam begituan?

Yang aku suka dari film ini:

  1. Kebebasan penonton untuk menentukan arti dari perjalanan Ofelia, apakan cuma khayalan atau betulan nyata. Aku lebih suka membayangkan kalau itu ternyata cuma imajinasi, karena dengan begitu ceritanya bakal lebih tragis.
  2. Alur cerita yang tidak bisa ditebak. Kupikir pada awalnya ini cuma cerita Putri biasa gitu, tapi itu berubah sejalan dengan alur cerita yang ternyata lebih luas daripada itu. Ada cerita tentang kehidupan di balik itu semua
  3. Ada dua cerita inti: cerita Ofelia (fantasi), dan cerita Mercedes (kejamnya dunia). Dan dua-duanya nggak main-main, sungguh.
  4. Keterusterangan keblak-blakan Guilermo Del Toro dalam menampilkan suasana sadis (penuh darah dan semacamnya). Salah satu yang masih melekat di kepalaku adalah pada saat Kapten Vidak menjahit mulutnya sendiri.
  5. Ending yang cantik, menjalin rangkaian cerita dan mematrinya di kepala penonton selama beberapa hari ke depan.

Alex Rider: Operation Stormbreaker

aros

Genres: Action/Adventure, Art/Foreign, Thriller and Adaptation
Starring: Alex Pettyfer, Ewan McGregor, Robbie Coltrane, Mickey Rourke, Bill Nighy
Directed by: Geoffrey Sax

Wah, wah. Satu lagi film tentang remaja main mata-mata.

Alex Rider (Alex Pettifer) adalah remaja 14 tahun yang tinggal dengan pamannya, seorang bankir, dan babysitter bernama Jack (Alicia Silverstones). Suatu hari pamannya dibunuh dan Alex menghadapi kenyataan mengejutkan bahwa selama ini dia diasuh oleh seorang mata-mata MI6. Parahnya lagi, dia malah dikontak oleh badan intelligen Inggris itu untuk menggantikan tugas pamannya yang belum komplit.

MI6 menugaskannya karena berkeyakinan bahwa Ian Rider (Ewan McGregor), sang almarhum paman, telah mempersiapkan keponakannya untuk tugas intai-mengintai. Semasa hidupnya, Alex didorong untuk belajar tiga bahasa: Francais, Deutch, dan Nihongo. Selain itu ada juga pelajaran menyelam, mendaki, beladiri, blah blah blah, pokoknya semua adalah kemampuan standar seorang intel. Jadilah Alex seorang anak yang perfect. Alex menerima tawaran MI6 dengan dorongan akan mengungkap misteri terbunuhnya paman Ian. Dan menyelamatkan Jack dari ancaman deportasi (Jack memiliki kewarganegaraan Amerika, yang visanya telah habis dan terancam dipenjara).

Uh, misinya mengangkut masalah Stormbreaker, teknologi komputer terbaru yang diciptakan untuk kepentingan pendidikan anak sekolah Inggris. Diciptakan oleh orang bernama Darius Sayle (Mickey Rourke), yang memiliki dendam kesumat pada masyarakat Inggris. Dulu waktu Darius masih sekolah, dia selalu diejek karena dia orang asing. Dan salah satu teman sekolahnya adalah Perdana Menteri (Robbie Coltrane) yang menjabat sekarang. Jadi dia berencana menghancurkan Inggris lewat rilis Stormbreaker.

Kenapa Stormbreaker berbahaya? Ternyata di dalamnya ada virus genetika yang siap membunuh jutaan orang. Alex harus bekerja keras mengungkap ini.

Menurut saya pribadi, film ini terlalu maksa. Dengan berlatar kehidupan sehari-hari yang normal, jalan cerita malah terkesan tidak masuk akal. Badan intelligen mana yang mau mempercayakan misi sangat penting dan rahasia di tangan anak ingusan 14 tahun yang belum pernah berkenalan dengan dunia spionase? Meskipun dia memiliki pengetahuan layaknya seorang agen, tapi keadaan mentalnya belum siap menghadapi dunia yang penuh bahaya dan kebohongan. Apalagi setelah pamannya meninggal, pasti emosinya masih labil. Menakjubkan kalau Alex berhasil dalam misi ini.

Ketidakprofesionalan Alex terbukti dalam beberapa adegan yang menunjukkan bahwa dia cuma anak-anak yang sok jadi agen rahasia. Aah, jadi nggak seru. Nggak ada asiknya nonton “mata-mata ceroboh yang tertangkap”, padahal dia sedang memikul keselamatan jutaan jiwa di punggungnya. Buat apa memaparkan berbagai macam keahlian yang menyilaukan? Seperti kodok pake mahkota pengeran, dia nggak bakal bisa loncat soalnya mahkotanya terlalu berat. Pada dasarnya dia cuma kodok yang cuma bisa ngorek.

Film ini juga diepenuhi hal-hal tipikal misalnya, keberadaan seorang cewek supercantik bernama Sabina (Sarah Bolger) yang tentu saja potensial jadi teman cewek sang tokoh utama. Itu nggak cukup. Di akhir cerita si Alex malah ngajak Sabina ikut ke markas Darius Sayle. Uh?

Trus alat-alat pengintaian ala James Bond juga kebawa. Karena Alex masih anak-anak, dia dibekali yoyo yang ternyata adalah alat pelacak berbenang nilon khusus yang bisa dipake gelantungan ala mata-mata. Ada lagi tas parasut, obat jerawat yang bisa menghancurkan melelehkan besi hingga ketebalan 9 inchi (sekitar 22.5 cm), pena berisi obat hipnotis (?) yang disa ditembakkan sejauh 8 meter, dan terakhir…. Nitendo mini plus kartu gamenya. Hehehe.

Mengenai dua hal terakhir di atas: Salah sih enggak, cuman tipikal banget.

Tapi aksi-aksinya lumayan keren lho. Pertunjukan karate solo Alex, hmmmm, banyak gerakan-gerakan yang tidak saya mengerti tapi efektif buat menjatuhkan lawan. Lalu pas Alex mengejar mobil box berisi barang-barang pamannya, dia mengejar mobil itu cuman pake sepeda. Kebut-kebutan di jalan raya, bikin macet. Dan ajaibnya, dia selamat dengan indah!

Kesimpulan: aksinya boleh juga, apalagi dilakukan oleh remaja 14 tahun, walaupun menurut saya pemainnya terlalu tua untuk jadi anak 14 tahun. Yang jadi masalah adalah cerita yang maksa itu tadi. Tapi selepas itu, semuanya boleh.

Ocean’s Thirteen

o13

Genres: Action/Adventure, Thriller, Crime/Gangster and Sequel
Starring: George Clooney, Ellen Barkin, Matt Damon, Brad Pitt, Andy Garcia, Al Pacino
Directed by: Steven Soderbergh

Masih ingat aksi geng Ocean merampok bank dengan cara yang lihai di Ocean’s Eleven? Atau permainan kucing-kucingan dengan Benedict, Toulour, dan Detektif Lahiri di Ocean’s Twelve? Yap, ini adalah seri ketiga dari trilogi geng kriminal Danny Ocean (Clooney), Rusty Ryan (Pitt), dan Linus Caldwell (Damon).

Film ini konon dimaksudkan untuk mendongkrak pemasukan setelah seri keduanya dianggap “kurang sukses” dibandingkan seri pertamanya. Saya nggak ngerti kenapa, padahal menurut saya Ocean’s Twelve adalah seri Ocean yang paling seru. Di sana banyak kejutan dan kita tidak bisa menebak-nebak apa yang bakal terjadi. Tapi yah, Ocean’s Eleven memang menang karena teknik kriminal yang dipakai lebih menegangkan.

Oke! Mari bicara tentang Ocean’s Thirteen.

Andy Garcia sebagai Terry Bennedict masih berperan dalam film ini. Ditambah lagi ada Al Pacino yang memerankan Willy Bank—orang yang berduit, tercemin dalam namanya—yang merupakan target perampokan kelompok Ocean. Toulour, pencuri handal dari Perancis juga masih saja mengekor gerak-gerik Ocean dan kawan-kawan. Sayang sekali Julia Roberts dan Catherine Zeta-Jones nggak ikutan nimbrung, padahal mereka memegang peranan penting di seri ke-2. Dan, tentu saja, geng Ocean masih eksis di sini.

Dimulai dari perjanjian bisnis antara Willy Bank dan Reuben, salah satu anggota kelompok Ocean. Willy terkenal licik dalam berbisnis, dan dia melakukannya pada Reuben. Setelah kontrak ditandatangani, yang ada malah kerugian total di pihak Reuben. Tentu saja Reuben tidak terima tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Bisnisnya kandas, dan dia kena stroke.

Mengutip pernyataan Willy Bank sebelum perampokan: “Well, I don’t lose. People who bet I’d be to lose, lose. And they lose big. You commit me, you better know, I move quick. And when i do, I slice, like a god damn hammer.”

Di sinilah latar belakang kenapa Danny Ocean ingin merampok Willy. Mengetahui teman berharganya menderita gara-gara ditipu, dia mengancam akan membalas Willy dengan hal setimpal. Danny ingin membuat kasino yang dikelola Willy rugi, atau bangkrut, atau pailit, terserah pokoknya demi memperjuangkan hak Reuben.

Tidak mudah lho, membobol kasino milik Willy. Mungkin kasino Willy adalah kasino paling aman di Las Vegas. Dilengkapi dengan pendeteksi panas, pendeteksi kebohongan, pendeteksi macam-macam. Apalagi sistem keamanannya tergolong yang paling ampuh. Tidak bisak disusupi, di-hack, belum ada di pasaran.

Film kali ini rumit, benar. Perlu ketelitian dalam perencanaan untuk misi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Misalnya: bagaimana cara mengelabuhi sistem keamanan? Bagaimana agar Willy Bank merugi, padahal selama ini kasino adalah pihak yang selalu menang? Bagaimana cara agar dapat keluar dari sana setelah misi dijalankan? Perampok amatir pasti akan menyerah duluan.

Ada banyak hal di film ini: gempa bumi ciptaan kelompok Ocean, campur tangan FBI oleh agen Caldwell (tebak siapa? yap, dia adalah ayah Linus Caldwell), pemogokan kerja di pabrik dadu di Meksiko, bla bla bla. Dan yang paling lucu adalah adegan pada saat Terry Bennedict muncul di Oprah Show karena telah menyumbang UD$72.000.000. WOW!

Kalau boleh saya menyimpulkan: Ocean’s Eleven menang dari segi teknik perampokan profesional; Ocean’s Twelve menang dari segi kejutan-kejutan; sedangkan Ocean’s Thirteen menang dari segi kerumitan perencanaan. Benar-benar sangat direkomendasikan untuk ditonton.


Admin

Laman

Jadwal Tayang

April 2019
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Kategori

Blog Stats

  • 107.338 hits
Add to Technorati Favorites
Iklan